ULANG TAHUN KE 3 FKMK


Pada tanggal 30 September 2012 lalu, FKMK Paroki Kemetiran merayakan ulang tahun ke-3 nya, sudah banyak suka dan duka,kebersamaan, pertentangan , dan banyak cerita lainnya yang menghiasi selama 3 tahun. Pada usia yang ke 3 ini FKMK siap untuk regenerasi pengurusnya. Dalam perayaan yang ke 3 ini dirayakan dengan cara doa bersama, kumpul-kumpul, makan-makan di panti paroki atas, tak lupa penampilan dari teater unio corda yaitu teater milik FKMK Paroki Kemetiran turut memeriahkan acara ulang tahun ini. Dalam acara ini suasana kebersamaan cukup terasa di antara para angootanya, karena mungkin ulang tahun kali ini akan menjadi perpisahan dalam arti sudah banyak atau sebagian besar pengurusnya sudah mulai menapaki jalan kea rah yang lebih dewasa, bekerja maupun yang masih mahasiswa. Tetapi perpisahan bukannya selamanya, para anggotanya masih dapat berkumpul bersama jika ada waktu luang sehingga tali kebersamaan masih akan tetap terjalin. Semoga regenasi yang menumbuhkan generasi baru akan mengambil apa yang lebih dari para seniornya dan membuang yang menjadi kekurangannya,
-ragil-

Salib adalah Kebahagiaan?


Belajar memahami hidup
Hidup bahagia menjadi dambaan setiap orang, tetapi tidak semua orang mempunyai gambaran yang sama tentang kebahagiaan. Ada orang yang berpendapat bahwa bahagia itu disamakan dengan hidup serba kecukupan, tidak ada masalah dan tidak kurang suatu apapun. Siapa orang tidak ingin kaya, punya tempat tinggal (rumah), ada kendaraan, anak isteri menyenangkan, pekerjaan lancar, teman banyak, apa-apa tersedia dan kelak kalau mati masuk surga. Seperti yang diimpikan oleh banyak anak muda: Lahir dari keluarga kaya, muda foya-foya, tua kaya raya, kalau mati masuk surga! Hahah, orang bilang itu ”uakeh tunggale”, banyak yang mau!
Persoalannya adalah pernahkah orang belajar untuk mencari tahu, bagaimana bisa mendapatkan semua itu? Semua orang tentu tahu peribahasa ini: ”hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai”, ”berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Tidak ada yang gratis dalam hidup ini! Untuk mencapai sukses orang butuh usaha keras dan melalui proses dan mengikuti berjalannya waktu. Maka, segala usaha untuk memaksakan diri, bahkan dengan cara kekerasan untuk menjadikan diri kaya hanya akan dijawab dengan kekacauan dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat.

Tuntutan Injil adalah salib
Beberapa kali dalam Injil dikatakan bahwa untuk menjadi murid Yesus, orang harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16, 24; Mrk 8, 34; Luk 9, 23). Jelas sekali, menurut pandangan Injili tidak ada jalan lain menuju kepada kebahagiaan kecuali salib.
Bahkan dengan mentaati hukum agama, orang tidak bisa menjamin untuk menerima hidup yang kekal. Dalam percakapan antara Yesus dengan seorang pemuda kaya (bdk Mrk 10:17-30), hal itu sangat jelas ditampilkan. Dialog ini diawali dengan datangnya seorang pemuda kepada Yesus yang dengan penuh penuh antusiasme bertanya tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal. Kisah dimulai dengan datangnya pemuda itu kepada Yesus. Dia berlari-lari mendapatkan Yesus dan bertelut di hadapan-Nya. Orang itu menghormati Yesus (bertelut di hadapan-Nya) dan menganggap Yesus sebagai Guru yang baik (lurus, jujur, saleh, kudus, tanpa pamrih, dsb). Sebagai Guru yang baik, pasti Yesus dapat memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaannya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Dialog ini diakhiri dengan perginya pemuda itu dengan sedih, karena nasehat Yesus tidak seperti yang dia harapkan. Bahkan adegan itu harus ditutup dengan sabda Yesus mengenai anugerah hidup kekal bagi siapapun yang berani meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus. “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Ketika pemuda itu akhirnya pergi dengan sedih karena banyak hartanya, Yesus membuat pernyataan yang menggemparkan para murid: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”…. “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Bagi kita di zaman sekarangpun kata-kata Yesus yang cukup keras ini tidak mudah dicerna. Namun, maksud perkataan Yesus itu kiranya jelas, bahwa bahwa orang kaya masuk Kerajaan Allah itu bukan hanya sulit tetapi bahkan mustahil.
Orang kaya yang dimaksud adalah orang yang mempunyai kelekatan duniawi. Kelekatan pada harta dunia sebenarnya hanyalah salah satu macam kelekatan saja. Masih banyak kelekatan lain yang membuat orang sulit masuk ke dalam kerajaan Allah. Misalnya kelekatan pada sifat-sifat buruk tertentu, kelekatan pada orang tertentu, kelekatan pada kesenangan yang tidak sehat, dan sebagainya. Orang Jawa menyebut penyakit “malima” (madat, maling, main, minum, madon) sebagai kelekatan. Kelekatan itu sendiri dapat berupa perbuatan dosa tetapi dapat pula berupa sumber pemicu dosa. Kelekatan pada harta dunia akan menjadi sumber pemicu dosa jika membuat orang menjadi pelit, tidak suka menolong sesama, menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta dunia, dsb. Dengan kata lain, kelekatan pada pokoknya adalah “sikap batin” orang. Kelekatan pada hal-hal yang tidak baik harus diwaspadai jangan sampai membuahkan dosa.

Melayani Yesus, mengikuti teladan-Nya
Ajaran dan sekaligus ajakan Yesus untuk menyangkal diri sungguh berat, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Jose Mujica adalah Presiden Uruguay yang sangat disegani, bukan karena pandai dalam memimpin negara, tetapi karena ia miskin. Bahkan ia dijuluki ”Presiden Termiskin di Dunia”. Mengapa? Ia rela menyumbangkan 90 persen gajinya ke badan amal. Namun ia tak merasa terusik dengan julukan tersebut. Dalam wawancara dengan Le Monde, surat kabar harian setempat dia sempat berucap: “Saya tak mempermasalahkan apa yang saya dapat, masih banyak warga yang hidup kekurangan”. Konon, per-bulannya, Jose Mujica digaji US$ 12,5 ribu (sekitar Rp 119 juta). Namun ia hanya mengambil sepuluh persen saja dari haknya itu. Kebiasaan menyumbangkan gaji ini ternyata juga menular kepada istrinya, Lucia Topolansky. Maka tak aneh bila barang mewah yang dimiliki pasangan ini hanya sebuah rumah di Montevideo dan mobil butut merk Volkswagen.
Jadi, akhirnya kebahagiaan menjadi sangat relatif terhadap dunia. Orang tidak bisa mengharapkan kebahagiaan (hidup kekal) dari dunia ini. Maka kelekatan duniawi pada dasarnya adalah sebuah kebodohan. Bagaimana dengan sikap & semangat pelayanan anda?

FX Suyamta Pr

Berlectio Divina di Alam


Pertemuan bulan Kitab Suci yang keempat di lingkungan Gampingan tak seperti biasanya. Kali ini pertemuan yang ke empat diadakan di Omah Petruk daerah di dekat pinggir kali Boyong Kaliurang Sleman. Sebanyak kurang lebih 30 umat ikut dalam pertemuan yang keempat ini, tua, muda bahkan anak-anak tak ketinggalan ikut serta. Dengan naik bis dan beberapa kendaraan pribadi berangkat dari lingkungan sekitar pukul 16.30 sampai di tempat suasan senja menjelang malam telah menyambut kami. Suasana malam disertai dengan bunyi-bunyian hewan malam khas suasana pedesaan, membuat pertemuan nampak lain dari pada biasanya. Suasan yang mendukung buat berlectio divina ini dapat lebih mengantar umat dalam bermeditasi dan menghadirkan diri untuk menyaksikan mukjizat Tuhan dalam merubah air menjadi anggur di pernikahan di Kana. Selesai bermeditasi, dipersilahkan umat untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan dialaminya. Banyak umat yang mengutarakan senang dengan pertemuan seperti ini, cara baru dalam berdoa lewat kitab suci mampu membuat umat merasakan sendiri Tuhan yang begitu mengasihi kita. Nampaknya model dan suasana yang lain dari pada biasanya dapat menggerakan umat untuk ikut hadir dalam pertemuan bulan kitab suci ini.
-sigal-

Workshop Pelatihan Pendamping PIA rayon Kota Yogyakarta


Sebanyak 30 pendamping PIA bersama perwakilan bidang pewartaan dari paroki-paroki yang ada di rayon kota Yogyakarta, terdiri paroki Pugeran, Kidulloji, Bintaran, Baciro, Kumetiran, Kotabaru dan Jetis. Selama 3 hari (21 September-23 September 2012) bertempat di Kaliurang mengikuti Workshop pelatihan pendamping PIA. Acara yang diselenggarakan oleh Bimas Katolik Kota Yogyakarta ini, bertujuan untuk kembali memperkaya pola pelatihan pendamping PIA, baik dari segi kreativitas, cara mengajar ataupun mengenal lagu-lagu baru. Mengenal kembali materi spiritualitas dalam mendampingi anak dibawakan oleh romo Fitri. Dalam kesempatan ini romo mengajak kembali sejauh mana para pendamping sudah menjadi fasilitator dalam mengantar anak kepada Tuhan Yesus.
Selama kurang lebih tiga hari, para pendamping PIA penuh dengan materi praktek mengajar sekolah minggu. Evaluasi dan masukan setelah mengajar senantiasa dilakukan, untuk membuat kegiatan pendampingan yang akan datang dapat berjalan lebih baik lagi. Berakhirnya rangkaian workshop pelatihan pendamping PIA, buka berarti selesai sampai disini, namun justru merupakan sebuah awal, untuk kembali menghidupkan kembali paguyuban PIA jaringan kota Yogyakarta yang telah beberapa lama vakum. Rencananya untuk pertemuan pertama temu pendamping PIA ini akan diadakan di paroki Bintaran. Selamat berproses kakak-kakak pendamping PIA.
-sigal-

SYUKURAN LINGKUNGAN SINGOSAREN LOR


Senja itu di hari Selasa, 25 September 2012 menjelang pukul 7 malam … bertempat di rumah Bpk. Mintarjo, umat berbondong-bondong hadir di tempat itu. Ada para ketua lingkungan di wilayah tujuh, ketua wilayah tujuh, umat lingkungan Singosaren Lor, para frater novis SJ (yang sedang live-in di HKI), para suster PMY, serta anak-anak dari Helen Keller Indonesia (HKI). Mereka semua hadir untuk mengucapkan syukur atas pesta nama lingkungan yakni St. Gabriel serta perayaan HUT lingkungan yang ke-7. Rasa syukur ini diungkapkan dalam perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Yatno Pr.
Tema dalam perayaan syukur ini adalah “Guyub Rukun Nyambut Gawe Kagem Gusti”. Dalam homilinya, Romo Yatno mengajak umat untuk meneladan St. Gabriel agar menjadi pembawa kabar sukacita atau pembawa kabar keselamatan bagi banyak orang. Sebagai orang katolik, hendaknya kita menjadi ‘plus’ karena ada Kristus yang hadir dalam diri kita masing-masing. Kehadiran Kristus itu kita wujudkan dalam perbuatan kita sehari-hari, semestinya kita mampu menjadi teladan bagi sesama dalam perbuatan kasih, pembawa kabar keselamatan, bukannya pembawa kabar kehancuran. Romo juga mengajak umat yang hadir agar senantiasa ‘Guyub’, bersatu padu hidup dalam kasih persaudaraan untuk bersama-sama melayani Tuhan dalam diri sesama.
Setelah perayaan ekaristi, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Rm. Yatno dan diserahkan ke Bu Nurtyas sebagai ketua lingkungan terpilih. Saat pemotongan tumpeng, Romo Yatno memberi contoh ke umat, bagaimana cara memotong tumpeng yang benar. Lagu “Selamat Ulang tahun” … mengiringi acara pemotongan tumpeng. Acara dilanjutkan dengan beberapa sambutan baik oleh ketua lingkungan Singosaren Lor maupun ketua wilayah tujuh.
Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan malam bersama. Meskipun peringatan St. Pelindung dan HUT Lingkungan ini dirayakan secara sederhana tetapi berkesan sangat mendalam.

Oleh : Sr. Stanisla PMY

Pembukaan Bulan rosario


Seusai misa minggu sore (30/09) dengan diiringi lagu Mari Muliakan Maria, diadakan iring-iringan prosesi perarakan patung Bunda Maria dari sakristi menuju altar. Dengan dibawa dua orang prodiakon patung bunda Maria dibawa sampai di depan altar dan berhenti sejenak. Setelah romo Bono memberikan berkat penutup, baru iring-iringan patung bunda Maria bersama Romo serta umat yang ikut dalam pembukaan bulan rosario beriringian menuju ke Gua Maria Kumetiran. Sesampainya di depan gua, patung Bunda Maria diletakan pada tempatnya. Kemudian baru diadakan doa rosario bersama umat yang ikut hadir malam itu. Sekitar 100 umat ikut mendaraskan doa rosario untuk mengawali bulan rosario tahun ini. Selama bulan Oktober ini nampak gua Maria Kumetiran, ramai dikunjungi tiap malam. Siang haripun ada anak-anak PIA dari lingkungan yang berdekatan dengan gereja Kumetiran berdoa rosario di depan gua maria Kumetiran.
-sigal-

Sugeng Rawuh Romo Yatno


Hari Kamis (27/09) nampak berbeda dari pada biasanya, halaman gereja Kumetiran sore itu dipenuhi dengan ratusan umat dari perwakilan paroki Somohitan, warga sekitar paroki Somohitan serta ikut beberapa komunitas yang mengahantar romo Yatno untuk berkarya di gereja Kumetiran. Nampak romo Bono selaku pastor kepala beserta pengurus dewan paroki ikut hadir dan menjadi among tamu, memberikan ucapan salam dan selamat datang kepada para umat yang datang. Acara yang diadakakan di panti paroki atas ini dimulai sekitar pukul 15.30 setelah semua rombongan pengantar romo Yatno naik ke panti paroki. Dalam ucapan selamat datang, romo Bono mewakili para romo yang lain serta umat Kumetiran menyampaikan ucapan selamat datang, Sugeng Rawuh romo, selamat berkarya bagi umat di paroki Kumetiran serta warga masyarakat pada umumnya. Tugas yang diemban di paroki Kumetiran ini salah satunya yaitu mendampingi stasi Bedhog, agar dapat berkembang menjadi paroki yang mandiri. Romo Yatno sebelum memulai sambutannyapun mengundang saudara, teman-teman dari berbagai macam komunitas dan profesi untuk turut maju kedepan ikut mendampingi romo Yatno. Mereka diperkenalkan satu persatu kepada romo Bono dan pengursu dewan yang hadir. Mengingat aktivitas dan keterlibatam romo dalam berbagi macam aksi sosial kemanusiaan dan gerakan lintas agama maka bisa dibayakan teman-teman romo tentu sangat banyak. Maka pada kesempatan itu pula romo Yatno minta ijin jika sewaktu-waktu teman-temannya dari berbagi macam komunitas ini berkumpul di gereja Kumetiran.
Acara ditutup dengan doa penutup yang dipimpin oleh romo Koko, dilanjutkan dengan jabat tangan perpisahan romo Yatno yang telah berkarya 12 tahun di paroki Somohitan dengan umat yang ikut menghantar. Selamt berkarya romo…..
-sigal-

Outbound PIA Kumetiran


Sebanyak 50 anak-anak PIA Kumetiran pada hari Minggu (7/10) asyik melukis caping, berkreasi dengan janur yaitu membuat keris dan baling-baling. Dengan sejuknya desa Pentingsari Cangkringan Sleman, menambah semangat anak-anak dalam melukis cat di caping. Dengan tema alam anak-anak mencoba menuangkan ide kreatvitas mereka di caping. Setelah selesai melukis capaing dan selesai berkreasi dengan janur. Dengan memakai capaing ala petani, anak-anak diajarkan cara menanam padi di sawah, dengan berjalan mundur sambil menanam anak-anak nampak senang, apalagi sawah penuh dengan air. Yang belum dapat giliran menanam padi, adik-adik diberi kesempatan untuk menaiki bajak yang ditarik oleh sapi. Selesai menanam padi dan menaiki bajak, aktivitas selanjutnya adalah berladang, anak-anak diajarkan untuk cara menanam sayuran. Sayuran yang ditanam adalah tananam terong. Tak hanya aktivitas menanam sayuran, anak-anak juga diberi kesempatan untuk memetik dan memanen tomat. Aktivitas memetik tomat ini juga menarik para orang tua yang ikut menghantar anak-anak mereka ikut memanen juga. Setelah badan kotor dengan cat, tanah dan lumpur, saatnya aktivitas di air yaitu tangkap ikan. Tak hanya anak-anak yang ikut tangkap ikan, para kakak pendamping serta orang tua ikut larut dalam acara tangkap ikan. Acara outbound dalam rangka pesta nama pelindung PIA Kumetiranpun ditutup dengan potong kue oleh ketua bidang Pewartaan bp.Warindra yang diserahkan ke koordinator PIA Kumetiran sdri Ratri. Pulang dari outbound ini anak-anak mendapatkan oleh-oleh caping, sayuran, tomat serta ikan.
-sigal-

Tema BKSN 2012 “Menyaksikan Mukjizat Tuhan”


MENGAPA MUKJIZAT?
Dalam karya Yesus, perumpamaan dan mukjizat tidak bisa dipisahkan. Keduanya berkaitan amat erat dan saling menentukan. Keduanya menjadi unsur pokok dari karya publik Yesus. Yang dibuat Yesus dalam pelayanan publik-Nya, praktis hanya ada dua, yaitu apa yang Ia katakan dan apa yang Ia lakukan, atau dengan pasangan kata yang lain, sabda dan karya.

Yohanes pembaptis mengutus dua di antara muridnya untuk menghadap Yesus dengan membawa pertanyaan ini, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Dan kepada mereka, Yesus memberikan jawaban demikian, “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7,22 bdk. Mat 11,4-5). Ada 2 pelayanan Yesus, yaitu ‘yang dilihat’ atau karya atau tindakan Yesus dan ‘yang didengar’ atau pewartaan atau sabda Yesus

APA MUKJIZAT ITU?
Di dalam Alkitab bahasa Indonesia, beberapa peristiwa luar biasa yang diperbuat oleh Yesus disebut dengan kata “mukjizat” (Mrk 6,2.5; Luk 10,13; 19,37; Mat 13,54). Akan tetapi, kalau kita berpaling pada teks aslinya, maka sebenarnya kita tidak pernah bertemu dengan kata “mukjizat” atau istilah yang dipakai dalam tradisi teologi Latin: miraculum. Dalam injil-injil sinoptik, karya itu biasanya disebut dynameis yang sebenarnya berarti “karya kuasa.” Sama halnya dengan Injil Yohanes. Di dalam injil keempat karya-karya itu disebut erga “karya, pekerjaan” (Yoh 5,36; 10,25.32) atau semeia yang berarti “tanda” (Yoh 2,11; 4,54; 9,16).
Mukjizat Itu?
Peristiwa atau perbuatan yang kurang biasa dan karenanya menarik perhatian dan oleh orang yang percaya dapat dimengerti sebagai pernyataan kekuasaan Allah sebagai penyelamat yang dengan jalan itu dunia menyatakan kuasa penyelamatan-Nya.
Tidak perlu bahwa kejadian atau perbuatan itu tidak dapat diterangkan dengan hukum alam; yang perlu hanyalah bahwa bagi orang yang percaya peristiwa atau kejadian itu dipahami sebagai campur tangan Tuhan.
Makna Mukjizat Yesus
Dasar untuk mengadakan mukjizat: pemberitaan tentang Kerajaan Allah.
Apa yang dilakukan oleh Yesus mewujudkan apa yang dikatakan-Nya tentang Kerajaan Allah yang sudah dekat.
Ia tidak mengadakan mukjizat untuk membela dan menolong diri-Nya sendiri. Dalam hal menyembuhkan penyakit, tindakan Yesus selalu berupa tanggapan atas kepercayaan orang.

Bagaimana Membaca Mukjizat Yesus?
Yang perlu dilakukan: menemukan arti mukjizat yang sedang kita hadapi (baik bagi Yesus dan bagi para penginjil) kemudian mengaitkan arti itu dengan situasi dewasa ini.
Orang sakit : contoh dari orang yang mendengarkan pewartaan Yesus dan mengalami kasih-Nya.
Para rasul : teladan tentang bagaimana menyaksikan Allah yang hadir di tengah manusia untuk menyatakan kehendak-Nya.
Yesus : pribadi yang datang untuk melakukan kehendak Allah yang mengutus-Nya.

Allah dapat mengadakan mukjizat di tengah kita bila Ia menghendakinya.
Yesus memang tidak hadir secara fisik dalam kehidupan kita, tetapi Ia hadir dalam Roh dan kuasa-Nya.
Untuk dapat menyaksikan tangan Allah yang bekerja, perlu iman yang hidup, yang membuka mata kita untuk melihat karya Allah di tengah kehidupan dan untuk mengucap syukur atasnya.

Kue dari Tuhan


Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan guru yang galak di sekolah, sahabat terbaiknya pergi ke luar kota, setiap hari harus les sampai sore.

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, “Tentu saja, aku suka dengan kue buatan ibu.”

“Nih, cicipi mentega ini,” kata Ibunya menawarkan.

“Yaiks,” ujar anaknya.

“Bagaimana dengan telur mentah?”

“aduh ibu beracanda ya?”

“Mau coba tepung terigu atau baking soda?”

“aduh, semua itu menjijikkan, ibu.”

Lalu Ibunya menjawab, “ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak.”

Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya. Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.

Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.
-sigal-

Previous Older Entries