Salib adalah Kebahagiaan?


Belajar memahami hidup
Hidup bahagia menjadi dambaan setiap orang, tetapi tidak semua orang mempunyai gambaran yang sama tentang kebahagiaan. Ada orang yang berpendapat bahwa bahagia itu disamakan dengan hidup serba kecukupan, tidak ada masalah dan tidak kurang suatu apapun. Siapa orang tidak ingin kaya, punya tempat tinggal (rumah), ada kendaraan, anak isteri menyenangkan, pekerjaan lancar, teman banyak, apa-apa tersedia dan kelak kalau mati masuk surga. Seperti yang diimpikan oleh banyak anak muda: Lahir dari keluarga kaya, muda foya-foya, tua kaya raya, kalau mati masuk surga! Hahah, orang bilang itu ”uakeh tunggale”, banyak yang mau!
Persoalannya adalah pernahkah orang belajar untuk mencari tahu, bagaimana bisa mendapatkan semua itu? Semua orang tentu tahu peribahasa ini: ”hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai”, ”berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Tidak ada yang gratis dalam hidup ini! Untuk mencapai sukses orang butuh usaha keras dan melalui proses dan mengikuti berjalannya waktu. Maka, segala usaha untuk memaksakan diri, bahkan dengan cara kekerasan untuk menjadikan diri kaya hanya akan dijawab dengan kekacauan dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat.

Tuntutan Injil adalah salib
Beberapa kali dalam Injil dikatakan bahwa untuk menjadi murid Yesus, orang harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16, 24; Mrk 8, 34; Luk 9, 23). Jelas sekali, menurut pandangan Injili tidak ada jalan lain menuju kepada kebahagiaan kecuali salib.
Bahkan dengan mentaati hukum agama, orang tidak bisa menjamin untuk menerima hidup yang kekal. Dalam percakapan antara Yesus dengan seorang pemuda kaya (bdk Mrk 10:17-30), hal itu sangat jelas ditampilkan. Dialog ini diawali dengan datangnya seorang pemuda kepada Yesus yang dengan penuh penuh antusiasme bertanya tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal. Kisah dimulai dengan datangnya pemuda itu kepada Yesus. Dia berlari-lari mendapatkan Yesus dan bertelut di hadapan-Nya. Orang itu menghormati Yesus (bertelut di hadapan-Nya) dan menganggap Yesus sebagai Guru yang baik (lurus, jujur, saleh, kudus, tanpa pamrih, dsb). Sebagai Guru yang baik, pasti Yesus dapat memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaannya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Dialog ini diakhiri dengan perginya pemuda itu dengan sedih, karena nasehat Yesus tidak seperti yang dia harapkan. Bahkan adegan itu harus ditutup dengan sabda Yesus mengenai anugerah hidup kekal bagi siapapun yang berani meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus. “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Ketika pemuda itu akhirnya pergi dengan sedih karena banyak hartanya, Yesus membuat pernyataan yang menggemparkan para murid: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”…. “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Bagi kita di zaman sekarangpun kata-kata Yesus yang cukup keras ini tidak mudah dicerna. Namun, maksud perkataan Yesus itu kiranya jelas, bahwa bahwa orang kaya masuk Kerajaan Allah itu bukan hanya sulit tetapi bahkan mustahil.
Orang kaya yang dimaksud adalah orang yang mempunyai kelekatan duniawi. Kelekatan pada harta dunia sebenarnya hanyalah salah satu macam kelekatan saja. Masih banyak kelekatan lain yang membuat orang sulit masuk ke dalam kerajaan Allah. Misalnya kelekatan pada sifat-sifat buruk tertentu, kelekatan pada orang tertentu, kelekatan pada kesenangan yang tidak sehat, dan sebagainya. Orang Jawa menyebut penyakit “malima” (madat, maling, main, minum, madon) sebagai kelekatan. Kelekatan itu sendiri dapat berupa perbuatan dosa tetapi dapat pula berupa sumber pemicu dosa. Kelekatan pada harta dunia akan menjadi sumber pemicu dosa jika membuat orang menjadi pelit, tidak suka menolong sesama, menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta dunia, dsb. Dengan kata lain, kelekatan pada pokoknya adalah “sikap batin” orang. Kelekatan pada hal-hal yang tidak baik harus diwaspadai jangan sampai membuahkan dosa.

Melayani Yesus, mengikuti teladan-Nya
Ajaran dan sekaligus ajakan Yesus untuk menyangkal diri sungguh berat, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Jose Mujica adalah Presiden Uruguay yang sangat disegani, bukan karena pandai dalam memimpin negara, tetapi karena ia miskin. Bahkan ia dijuluki ”Presiden Termiskin di Dunia”. Mengapa? Ia rela menyumbangkan 90 persen gajinya ke badan amal. Namun ia tak merasa terusik dengan julukan tersebut. Dalam wawancara dengan Le Monde, surat kabar harian setempat dia sempat berucap: “Saya tak mempermasalahkan apa yang saya dapat, masih banyak warga yang hidup kekurangan”. Konon, per-bulannya, Jose Mujica digaji US$ 12,5 ribu (sekitar Rp 119 juta). Namun ia hanya mengambil sepuluh persen saja dari haknya itu. Kebiasaan menyumbangkan gaji ini ternyata juga menular kepada istrinya, Lucia Topolansky. Maka tak aneh bila barang mewah yang dimiliki pasangan ini hanya sebuah rumah di Montevideo dan mobil butut merk Volkswagen.
Jadi, akhirnya kebahagiaan menjadi sangat relatif terhadap dunia. Orang tidak bisa mengharapkan kebahagiaan (hidup kekal) dari dunia ini. Maka kelekatan duniawi pada dasarnya adalah sebuah kebodohan. Bagaimana dengan sikap & semangat pelayanan anda?

FX Suyamta Pr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: