GLOBALISASI KELEMBUTAN (Wawan hati dengan bapak Uskup Mgs.J.Pujasumarta)


Negeri kita saat ini sedang dihadapkan pada situasi atau keadaan dimana sebuah “perbedaan” dianggap dosa. Tak ada kompromi dengan perbedaan yang ada. Saling serang, bakar, bahkan berujung pada kematian mulai melanda negeri kita tercinta hanya karena “aku dan kamu” itu berbeda.
Dunia saat ini mulai berkembang sekulerisme dan disisi lain paham fundamental yang berujung padang tindakan radikalisme mulai terjadi dimana-mana. Lalu pertanyaannya sebagai umat kristiani, kita sudah terbawa ke arus yang mana? Tentu sebagai umat kristiani, kita tak boleh terbawa kedua arus tersebut. Kita tetap milih jalan tengah, dimana kita tetap menghargai segala jenis kehidupan. Saat dunia penuh dengan kekerasan dan kebencian, kita harus bisa menjadi duta kelembutan. Menjadikan globalisasi kelembutan hadir kembali di dunia ini. Globalisasi kelembutan berarti percaya penuh akan akan pengharapan kepada Allah. Melihat Allah dalam hal-hal yang sederhana yang ada di sekitar kita. Melihat Allah dalam diri orang-orang di sekitar kita. Jika kita mampu merasakan Allah yang ikut campur tangan dalam kehidupan kita sehari-hari lewat orang-orang di sekitar kita, lewat alam cipataanNya, tentu perbuatan dan sikap kita akan penuh dengan kelembutan dan rendah hati. Kelembutan dan rendah hati bukanlah hal yang lembek atau penakut, melainkan sikap untuk melengkapi. Jika semua keras dan membatu, lalu tak ada kelembutan dan belas kasih lalu apa yang terjadi? Persoalan tak kunjung reda. Kelembutan membawa pencerahan dan pengharapan.

Ajakan beradorasi
Setiap kali berkunjung di gereja kita, bapak uskup selalu menyempatkan diri beradorasi di kapel adorasi gereja Kumetiran. Dengan beradorasi kita melengkapi diri dalam penyembahan kepada Allah dalam roh dan kebenaran. Adorasi akan membawa pengalaman mistik perjumpaan Allah yang hadir dan Allah yang peduli dengan hidup kita. Dengan beradorasi kita bagaikan sebutir pasir yang tinggal dan berdiam di kerang mutiara. Adorasi mampu menjadi penguat iman kita ditengah dua arus kuat yang melanda dunia ini.

Tahun ini Gereja Katolik Roma mencanangkan sebagai tahun iman 11 Oktober 2012 – 25 November 2013. Sebagai rasa syukur atas 50 tahun konsili Vatikan II, bersyukur atas iman dan semangat untuk tetap meawartakan iman kepada orang lain. Sungguh tepat sekali jika keuskupan kita ardas nya berbicara mengenai iman yang mendalam dan tangguh. Marilah kita sambut tahun iman ini dengan semakin bertambah iman kita, semakin menghargai dan melestarikan alam ciptaan Tuhan, semakin memberdayakan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.
sigal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: