Mengembangkan Paroki dengan sepenuh hati seperti Maria


Ketika Maria mendapatkan kepercayaan untuk melahirkan dan memelihara Yesus; hatinya bergolak. Dia merasa tidak layak, tidak mampu dan tidak berani. Hanya kekuatan rahmat Allah yang menjadikan dia bersedia menerima tugas itu. Perjalanan menjadi ibu Tuhan Yesus, ternyata tidak mudah. Namun dengan teguh dan teduh hati, Maria melaksanakannya dan mencoba menyimpan(merenungkan)nya dalam hati.

Hati Maria sungguh tulus, hatinya suci. Ia tulus melaksanakan apa yang dia telah bersedia menerimanya. Ia suci, karena tugas dan kehendak dari Allah sendirilah yang disanggupinya. Dengan gembira ia menjalani hari-harinya didalam Tuhan.

 

Paroki kita tumbuh, hidup dan berkembang selama 68 tahun. Kita berlindung pada ibu Maria dengan ketulusan dan kesuciannya. Pertanyaan kita “sudahkah spiritualitas Maria pelindung kita, menjadi spiritualitas seluruh umat Paroki”?

 

1. Komitmen pada tugas

Selama kurun waktu setahun ini, kita sering mendengar berbagai macam kelompok yang vakum dengan kegiatan. Satu dua Lingkungan yang tidak mempunyai jadwal/agenda kegiatan yang pasti. Gerakan re-generasi yang tidak diseriusi. Tim-tim kerja yang aktivitasnya kurang memadai. Penanggung-jawab Tim kerja yang kurang aktif dan kreatif.

Ada baiknya kita belajar dari Maria, bahwa dalam kesulitan, kebosanan dan kejenuhan : tidak pernah meninggalkan tugas dan kesanggupannya. Kita dituntut untuk setia pada komitmen awal kita dengan tugas masing-masing.

 

2. Kebersamaan yang mengembangkan

Gereja Keuskupan Agung Semarang pernah mencanangkan “communion of communities”: kebersamaan komunitas-komunitas. Sudah bukan eranya lagi Kelompok-kelompok karya dan minat hanya memikirkan kelompoknya sendiri. Saatnya kelompok-kelompok itu membangun kerjasama dalam membangun gereja paroki kita.

Semangat yang mau dibangun adalah semangat inklusif. Allah memanggil Maria, supaya Allah bisa melibatkan manusia(Maria) dalam karya penyelamatan Allah. Betapa membanggakan-lah bilamana kebersamaan kelompok-kelompok di paroki kita bisa bekerja-sama dalam mengembangkan gereja dan masyarakat.

(Maaaf) Masih ada “klik-klik” antar individu yang tidak memungkinkan(=menghambat) kerjasama yang baik di antara kita.

 

3. Keterbukaan yang menggembirakan

Tahu tetapi diam itu sama dengan membiarkan orang lain menderita dan tidak berkembang.

Ketika kita tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, mengapa tidak mengungkapkannya? Apakah karena merasa tidak enak? Rikuh? Pekewuh?

Hambatan yang menyangkut pribadi maupun persoalan, akan menjadikan hidup gereja paroki kita stagnant. Dibutuhkan keberanian mengungkapkan dan bersama-sama memecahkan persoalan itu. D.k.l kebiasaan memendam masalah (apalagi malah menjadi “glendhengan”) harus mulai dirombak. Kita semua berharap, hidup menjemaat kita didasari dan diwarnai saling terbuka satu sama lain.

 

4. Terlibat dan berbagi

Kalau kita ke alun-alun utara; kita temui Gupala, yakni patung batu memegang gada. Dia tidak mau tahu dan menggubris orang yang lalu lalang dan “iwut” di sekitar- nya. Tidak urusan! “Mempunyai mata tetapi tidak melihat. Mempunyai telinga tetapi tidak mendengar. Mempunyai tangan tetapi tidak meraba” (cfr. Mzm.115). Koq ya ada ya: sebagian umat paroki kita yang (amit-amit) tidak mau tahu dengan urusan paroki keq, lingkungan keq, umat sekitarnya keq. Seraya dia (maaf) membangun egoisme spiritual dalam dirinya. Beragama adalah urusan dengan Tuhan, bukan urusan dengan sesama. Yang penting dia beribadah (apapun bentuknya), ke gereja (manapun gereja yang disukai), dan berdana (kemana ahli nujumnya menata). Urusannya keatas. Dia tidak urus dengan sepak terjang rekan-rekan seiman, karena memang tidak dikenalnya. Baru kalau ada urusan personal, ribut (dan sewot) mencari kesana kemari: ke sekretariat, ke romo (NB: yg tidak dikenalnya, padahal berhadapan muka), ke Ketua Lingkungan (sekedar tahu nama, tidak tahu orangnya, atau tahu orang tidak tahu namanya) sekedar cari surat.

Mari kita berdoa, agar gereja paroki kita semakin guyub karena semakin banyak orang yang sadar dan terlibat untuk berbagi dengan sesama se lingkungan, se wilayah, se paroki.

 

5. Wajah Maria di Gereja Paroki kita

Aktivitas (bukan aktivisme) yang dilaksanakan di paroki kita, pasti, menunjukkan wajah gereja macam apa saat ini. Mulai dari program paroki, program kerja bidang dengan tim-tim kerjanya, hingga program wilayah dan lingkungan (maaf; yg ternyata tidak semua membuatnya) – akan menampakkan wajah gereja kita.

Gereja yang Liturgis-kah? Gereja yang Melayani-kah? Gereja yang Berbagi-kah, dengan yang KLMTD? Gereja yang Bersaksi? Gereja yang Profetis?

Cap paroki kita mencantumkan gambar Maria. Kita berharap bahwa wajah Maria tidak hanya tercantum di kertas-kertas lembar kerja dan surat-surat resmi; tetapi wajah Maria juga (dan terlebih-lebih) terpatri dalam-dalam didalam hidup dan hati seluruh umat. Kita ingin menampilkan wajah Maria sebagai wajah gereja yang mengasihi, mencintai, melayani, meneguhkan pengharapan, mengampuni dan membaharui.

Pekerjaan yang tidak mudah tetapi menggembirakan.

Pekerjaan rumah yg tidak pernah berhenti dikerjakan.

 

Selamat merayakan Hari Ulang Tahun yang ke-68.

Terimakasih atas perhatian dan keterlibatan anda semua, selama 7th saya di paroki Kumetiran (15 Juli 2005 – 15 juli 2012).

Mohon maaf, betapa banyak saya melukai dan menyakiti anda baik lewat sindiran maupun teguran langsung yang “ceplas-ceplos” dan “easy-going” demi kebaikan dan kemajuan kita bersama.

Selamat berjuang, makin maju dan berkembang.

Viva la Kumetirana.

Mohon pamit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: