MODAL UTAMA MANUSIA : Kecerdasan


Ada orang yang mengeluh bahwa dirinya miskin. Biasanya yang dimaksudkan dengan miskin adalah tidak mempunyai banyak harta benda dan uang. Kalau dia ingin membeli ini dan itu dia kekurangan uang. Apalagi kalau dia mau membuka usaha dagang, orang itu akan merasa kurang mampu karena kekurangan modal. Lalu dia membandingkan dengan orang-orang kaya seperti Liem Sioe Liong yang baru saja meninggal dunia. Lalu pupuslah segala usaha untuk maju. Apakah memang dia benar-benar tidak punya harapan? Anda pasti akan menjawab, tidak. Bagi orang beriman selalu saja ada pengharapan. Ibaratnya kalau semua pintu tertutup, pastilah ada jendela, kalau jendela tertutup juga, pastilah masih ada ventilasi. Masalahnya adalah bagaimana orang itu mengembangkan sumberdaya manusianya yaitu mengasah kecerdasannya. Kalau kita memakai sistem ATM (Amati Tiru Modifikasi) kita akan menemukan bahwa modal utama untuk kesuksesan adalah sumberdaya manusia. Misalnya, Liem Sioe Liong sangat tidak tertarik untuk membeli barang-barang yang bermerek terkenal, pakaian misalnya. Menurut dia barang-barang itu belum tentu nyaman dipakai, karena belum tentu cocok dengan bentuk tubuhnya. Jika nyaman pun harganya terlalu mahal. Meskipun kaya raya dia hanya membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang memang penting dan bermanfaat. Itulah salah satu strategi dia untuk menjadi kaya. Dalam hal ini dia memiliki kecerdasan dalam menggunakan uangnya. Kecerdasan itulah sumber daya manusia yang utama.
Bicara soal kecerdasan dalam diri kita ada 5 macam-macam kecerdasan yang masih perlu terus menerus dikembangkan yaitu:
1. Kecerdasan fisik (Fisical Intelligence): bagaimana kita menjaga kesehatan kita, termasuk di dalamnya pola makan, pola tidur, pola berolahraga, pola bekerja.
2. Kecerdasaran emosional (Emotional Intelligence): bagaimana kita menyadari, mengendalikan emosi. Emosi itu bagaikan air sungai yang bisa menjadi bencana banjir, tetapi jika dikendalikan justru bermanfaat untuk hidup.
3. Kecerdasan intelektual (Intellectual Quotion): kemampuan kita mempergunakan daya pikir kita untuk mengadakan pertimbangan-pertimbangan guna membantu memunculkan pilihan yang tepat.
4. Kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence): kemampuan membujuk diri untuk tetap bersemangat kendati sedang terpuruk. Kemampuan menghargai diri sendiri meskipun orang lain menghina dan melecehkan.
5. Kecerdasan mistik (Mystical Intelligence): kemampuan berhubungan dengan Tuhan sedemikian rupa sehingga mampu mengambil, mengakses, mendownload kekuatan ilahi untuk kehidupan nyata.
Kecerdasaran 1 – 4 sudah banyak dibicarakan. Yang jarang dibicarakan dalah kecerdasan ke 5 yaitu kecerdasarn mistik. Contoh nyata orang yang memiliki kecerdasan mistik sangat tinggi adalah Yesus Kristus, sampai-sampai kita menyebut Dia sebagai Allah-Manusia. Dia sedemikian sempurna sehingga St. Paulus mengajarkan demikian : “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Flp 2:5)”. Jika kita amati lebih dalam sebenarnya aktivitas beragama kita mustinya membantuk kita untuk memiliki kecerdasan mistik sedemikian rupa sehingga semakin hari semakin serupa dengan Yesus Kristus. Dalam arti aslinya mistik berarti bersatu mesra dengan Tuhan. Sakramen eksristi yang kita terima merupakan ungkapan persatuan antara kita dengan Yesus Kristus yang kita yakini sebagai Tuhan kita. St. Paulus mengungkapkan bahwa Rohlah yang berdoa untuk kita. Dalam arti ini kata-kata menjadi kurang penting dibandingkan dengan relasi kedalaman hati. Proses awal dari pengalaman mistik adalah kerinduan hati yang menyala-nyala untuk bertemu dengan Tuhan. Selanjutnya kerinduan itu menimbulkan kekaguman akan kebesaran kuasa Tuhan namun sekaligus kedekatan akan Tuhan yang penuh cinta. Tidak salah bahwa Tuhan Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Dalam doa itu yang pertama-tama muncul adalah kerinduan hati untuk memuliakan, memuji kebesaran Tuhan. Permohonan untuk kepentingan manusiawi kita menjadi nomer dua dibandingkan dengan permohonan agar nama Tuhan dipuji dan dimuliakan: “Dimuliakanlah nama-Mu, Datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah Kehendak-Mu”. Kerinduan hati ini jika diteruskan akan menimbulkan keinginan untuk dekat, bahkan bersatu dan hidup bersama dengan Tuhan seperti pokok anggur dan ranting-rantingnya.
Bagaimana mengalami pengalaman mistik itu? Yang pertama-tama adalah kesadaran bahawa pengalaman bersatu dengan Tuhan itu adalah anugerah, bukan rekayasa manusiawi. Yang bisa dibuat olah kita, manusia, adalah menyingkirkan halangan agar rahmat itu mengalir ke dalam hati kita. Bagaikan mengisi air pada botol, agar air itu bisa masuk sumbat botol harus dibuka. Kepentingan-kepentingan pribadi kita yang kerapkali muncul dari egoisme kita dinomer duakan. Terkabulnya permohonan kita sekedar bonus dari relasi erat akrab dengan Tuhan.
Selanjutnya, seperti tidak setiap makanan itu mengandung gizi tinggi, demikian juga aktivitas rohani kita tidak selalu mengandung gizi tinggi untuk makanan rohani kita. Gizi paling tinggi untuk kehidupan rohani kita adalah ekaristi, kemudian membaca Kitab Suci sebagai sarana pengenalan lebih jauh tentang Tuhan. Doa-doa pujian yang disusul dengan permohonan ampun menjadi menu yang baik juga. Bentuk aktivitas rohani ini akan mendorong dan menguatkan kita untuk melaksanakan kehendak Tuhan dengan taat dan tulus. Yang terakhir barulah kita sampaikan doa-doa permohonan kita sebagai ungkapan kepercayaan kita akan kuasa Tuhan.
Selamat mencoba, siapa tahu Tuhan berkenan menganugerahkan persaruan mistik dengan-Nya.

Yogyakarta, 16 Juni 2012

Fl. Hartosubono, Pr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: