Fenomena Soegija


Selama beberapa minggu ini, banyak umat katolik berbondong-bondong pergi ke Amplas buat nonton film Soegija. Kebanyakan dari mereka nonton beramai-ramai, dari para romo, dewan paroki, komunitas kategorial ataupun komunitas teritorial terlihat menonton film garapan Garin Nugroho ini. Film yang boleh dibilang banyak menyedot perhatian umat katolik ini membuat rasanya orang yang jarang nonton film di bioskoppun menjadi nonton, entah karena dibayari atau karena tergabung dalam komunitas tertentu sehingga mewajibkan untuk menonton film ini. Dari sosok seorang uskup pribumi pertama ini sebenarnya banyak umat yang sudah mengenal dengan istilah 100% republik dan 100% Katolik. Melalui film ini pula, kita mengenal kata-kata yang mungkin baru terdendar di telinga kita, seperti, ““Kemanusiaan itu satu. Meski berbeda bangsa, suku, bahasa, dan adat istiadatnya.” Film ini bukan merupakan suatu film yang menceritakan autobiografi penuh dari awal hingga akhir dari sosok Soegija, melainkan hanya sepotongan kecil mengenai sosok Soegijo yang ditambahai dengan cerita-cerita ringan yang jika dirasa merupakan sindiran bagi kita sendiri. Seperti kata, si Min, “romo kui uripe neng sampah.” Lalu ada lagi, Apa gunanya merdeka, jika tak bisa mendididik diri sendiri. Sindirian bagi para pemimpin negeri dan juga para politikus juga ikut tersampaikan dalam film ini. Film ini begitu segar… ungkap Pak Joko Bing. Segar dalam arti memberikan tawa serta segar dalam arti pesan moral bagi yang menonton. Berbeda dengan Mas Agung (sekretaris Liturgi) yang mengungkapkan, paling diingat ketika , ejekan anak-anak kecil kepada seorang sekutu dengan lagu Jawa, yang diajari oleh seorang penjual jamu Gandring yang diperankan oleh Marwoto.
Catatan-catatan dari tulisan romo kanjeng mengisi tiap-tiap alur cerita. Dengan goresan tinta pena dikertas dengan tulisan latin memuat kata-kata yang jika dirasakan sarat penuh makna. Bagi umat katolik yang menonton film ini tentu mengetahui dengan pasti lagu-lagu iringan dan musik ilustrasi yang digarap oleh Djaduk Ferianto ini seperti lagu Ndherek Dewi Maria, Mengasih Maria. Jika sebagian kecil umat sudah menonton film ini, lalu apa selanjutnya yang harus dikerjakan dan dilakukan. Hanya sebatas rasa banggakah? Ataukah ada salah satu pesan atau semangat dari romo kanjeng yang akan diteruskan? Atau ah…biasa aja…? Terlepas dari berbagai kritik, rasa kurang puas terhadap film ini bermunculan di media on line ataupun dalam percakapan dan perbincangan disana-sini. Sudah sewajarnya kita patut bersyukur, karena sejauh ini film Soegija tanpa dirasa ingin menegaskan kembali kesatuan umat katolik dalam satu penggembalaan tak pernah pudar. Symbol rantang sebagai caosan dahar romo dari dulu sampai sekarang tak berubah. Jika umat sudah terlebih dahulu kenyang, biarlah para romo yang terakhir kali kenyang.
-sigal-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: