MELAYANI ROH KUDUS UNTUK BERBUAH BANYAK


”Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”

(Yoh 15, 5)

 

Perlunya sikap terbuka dan rendah hati

Merenungkan sabda Tuhan tersebut, hati saya terusik: Kalau hidupku tidak banyak berubah, dan kondisi hidup bersama di masyarakat tidak berkembang lebih baik, apakah itu pertanda bahwa sesungguhnya saya adalah ranting yang tidak berbuah karena tidak menempel pada pohon? Dalam kehidupan beriman orang terkadang kurang peka menanggapi peristiwa hidup sehari-hari, padahal melalui pengalaman seperti itu Tuhan hadir dan menyapa umat-Nya. Mungkin saja orang seperti itu banyak berdoa dan adorasi, tetapi hidupnya tidak berbuah karena doanya hanya teoritis dan imannya tidak hidup dan mengakar dalam realitas kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, hidup beriman telah ter-degradasi menjadi kegiatan yang sifatnya hanya rutinitas  dan formalitas belaka. Ini sangat berbahaya!

Seorang  pastor duduk di depan meja dekat jendela menyiapkan khotbah tentang ‘Penyelenggaraan Ilahi’, ketika ia mendengar sesuatu seperti ledakan, segera ia melihat orang lalu-lalang berlari-lari dalam kepanikan, dan sejenak kemudian diketahui bahwa bendungan telah meledak, sungai meluap dan rakyat sedang diungsikan. Pastor itu melihat air semakin tinggi di jalanan bawah. Ia merasa sedikit sulit menekan rasa panik yang mencekam, tetapi ia berpikir: ”Di sini aku sedang menyiapkan khotbah tentang ‘Penyelenggaraan Ilahi’, dan aku mendapat kesempatan untuk mempraktekkan khotbahku. Aku tidak akan lari seperti lainnya. Aku akan tetap tinggal di sini dan percaya akan penyelenggaraan ilahi bahwa Tuhan akan menolong aku”. Ketika itu air sudah sampai di jendela, perahu penuh orang lewat, banyak orang berteriak: “Naiklah, pastor!” Pastor itu menjawab, katanya: ”Ah, tidak anak-anakku, aku percaya ’Penyelenggaraan Ilahi, Tuhan akan menolong aku”. Pastor memang betul naik ke atap, tetapi ketika air sampai di sana, seperangkat orang dalam perahu lewat, mendesak pastor agar naik, sekali lagi ia menolak. Kali ini ia naik ke puncak menara lonceng. Ketika air sampai di lututnya, seorang petugas dalam perahu motor dikirim untuk menolongnya. ”Terimakasih, saudara!” kata pastor dengan senyum tenang. ”Aku percaya kepada Tuhan. Ia tidak akan meninggalkan aku, imam-Nya”. Ketika Pastor mati tenggelam dan naik ke surga, pertama-tama yang ia lakukan ialah mengeluh kepada Tuhan:  ”Tuhan, aku percaya kepada-Mu. Mengapa Engkau tidak berbuat apa-apa untuk menolong aku?” Tuhan menjawab: ”Akh, Aku sudah mengirim perahu tiga kali, tetapi engkau menolak?” Butuh kerendahan hati untuk memahami kehendak Allah, penyelenggara hidup ini.

 

Kita hidup di jaman ”rezim” Roh Kudus

Empat puluh hari sesudah kebangkitan-Nya Yesus naik ke sorga. Menurut kesaksian Kisah para Rasul (Kis 1, 1-11) selama 40 hari tersebut Yesus berulangkali menampakkan diri dan berbicara kepada para murid tentang Kerajaan Allah. Penampakan Yesus merupakan bukti bahwa Dia hidup. Selain itu waktu 40 hari itu memberi pesan tentang karya misi-Nya yang pada intinya adalah mewartakan kerajaan Allah. Pewartaan Kerajaan Allah dimahkotai dengan peristiwa kenaikan-Nya ke sorga, ketika Dia diperkenankan Bapa untuk mengenakan kembali status ke-Ilahian-Nya di dalam kemuliaan surgawi. Jumlah 40 dalam Kitab Suci mempunyai berbagai makna. Selama empat puluh tahun di padang gurun Bangsa Israel mengalami masa pencobaan. Selama 40 hari pula Yesus berpuasa di padang gurun untuk dicobai iblis. Berkaitan dengan peristiwa kenaikan Yesus, 40 hari mempunyai makna “kepenuhan janji”. Yesus telah selesai dengan karya-Nya di atas bumi dan selanjutnya naik ke surga dengan tubuh kebangkitan-Nya.

Injil Yohanes mengaitkan kenaikan Yesus ke surga dengan kedatangan Roh Kudus yang menjadi Roh Penghibur. Jemaat perdana sungguh menghayati peran Roh Kudus ini sebagai penghibur dalam arti sebenarnya. Kata “penghibur” (Yunani: “parakletos”) dapat berarti pula: peneguh, pembela, pendamping. “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”  (Yoh 16:7). Nyatalah bahwa saat sekarang ini kita hidup di jaman ”rezim” Roh Kudus. Allah Bapa yang menciptakan alam semesta, dan kemudian membuat segala ciptaan itu menjadi baru di dalam pribadi Allah Putera kini hadir melalui Roh-Nya yang disebut Roh Kudus. Ya, Gereja hidup dalam ”pemerintahan” Roh Kudus hingga kedatangan Yesus Kristus yang kedua di akhir jaman nanti. Dia akan datang kembali dengan penuh kemuliaan. “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya”  (Mat 25:31).

 

Yesus berpesan agar kita bersedia menjadi saksi-Nya

Pesan Yesus ini kita temukan di dalam Kis 1:8 : “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”. Menarik bahwa gerak perkembangan Gereja menurut Kisah Para Rasul mengikuti program pewartaan Injil yang dikatakan Yesus dalam ayat tersebut: Injil diwartakan di Yerusalem (Kis 1-7), Injil diwartakan di Yudea dan Samaria (Kis 8-11,18), dan Injil diwartakan ke seluruh dunia (Kis  11,19-28).

Pengalaman Ibu Teresa dan pengikutnya ketika diundang untuk bekerja di rumah sakit di Rusia. Ketika tiba di sana, mereka melihat seorang dokter membentak-bentak pasien yang kelihatannya tertekan. Maka apa yang kemudian mereka kerjakan? Mereka minta disediakan ruangan untuk berdoa, kemudian mereka membersihkan rumah sakit, dinding yang sangat kotor, memandikan pasien, memberi mereka makan dan membantu apa saja yang mereka perlukan, Dan semua itu mereka lakukan dengan senang hati dan wajah ceria. Hal itu  membawa pengaruh bagi para petugas medis di sana, sehingga para dokter dan perawatpun berpenampilan ramah dan penuh kasih. Pihak pemerintah heran: “Apakah saya masuk rumah sakit yang salah?” Melakukan perbuatan kecil (biasa) dengan penuh kasih (luar biasa) akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa! Oleh karena itu kita harus melakukan perbuatan kasih itu sampai merasa sakit, sebagaimana Yesus juga merasa kesakitan di salib untuk keselamatan kita.

 

Bersatu dengan Roh Kudus untuk berbuah banyak

Dalam perumpamaan tentang pokok anggur yang benar diungkapkan tentang kesatuan Yesus dan para murid-Nya. Seperti hubungan Bapa dan Putera, hubungan itu merupakan persahabatan sejati, dimana orang tahu menerima dan memberi. Hubungan seperti ini hanya mungkin kalau ada kasih. Orang percaya bahwa Allah adalah kasih, maka iapun menaruh cinta kasih kepada sesama untuk ikut serta mewartakan cinta kasih Allah kepada dunia. Cinta kasih Allah itu sempurna, karena Ia dalam kebebasan-Nya menyerahkan diri untuk kita. Kasih setia Allah itu menantang kesetiaan kita. Cinta kasih Allah tidak terhenti karena ketidaktaatan manusia, tetapi terus mengampuni dan menerima apa adanya. Salah satu ciri khas orang yang hidup dalam cinta kasih yakni terbuka akan bimbingan Roh Kudus! Marilah kita melayani Roh Kudus dengan lebih baik, agar semakin berbuah banyak (ryam).

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: