Kenapa Madah Bakti?


Romo Karl Edmund Prier, Sj, sengaja diundang oleh Tim Liturgi pada pertemuan hari Senin, 23 April 2012 untuk memberikan masukan dan saran seputar musik/nyanyian liturgi pada umumnya serta tentang buku nyanyian Madah Bakti pada khususnya.

Inilah masukan-masukan Romo K.E. Prier, SJ tersebut:

• Adanya pertimbangan, bahwa penggunaan 2 buku nyanyian yaitu Madah Bakti dan Puji Syukur secara bergantian tiap bulan, tidaklah menguntungkan bagi umat. Seringkali umat salah dalam membawa buku nyayian waktu misa.
• Madah Bakti (MB) 2000 melengkapi MB lama soal Lagu-lagu dan Doa-doa. (Yang dulu di Puji Syukur(PS) ada, di MB tidak ada, kini dilengkapi)
• Mengapa lagu-lagu Tradisi Jerman harus dipertahankan, kalau di negerinya sendiri sudah “dibuang?”
• Lagu-lagu di PS yang berasal dari abad 17-an, sudah tidak cocok lagi untuk zaman sekarang. Syair-syairnya yang hanya asal ‘correct’ dari segi bahasa.
• Sejumlah lagu di MB lama diganti dengan yang baru (40-an lagu), seperti Ordinarium. Misa Kita II diganti dengan Misa Apokayan (Dayak)
• Mengapa kita menyanyikan lagu-lagu inkulturasi misalnya dari daerah : Flores, Batak, Nias dll? Karena dengan menyayikan lagu-lagu dari inkulturasi dari berbagai daerah, kita bisa belajar menimba dan mengembangkan iman dengan cara yang berbeda-beda, termasuk dari iman saudara kita yang dari daerah tsb.
• Cara menyanyikan lagu pun perlu diperbaiki, terutama kecenderungan untuk bernyanyi secara ‘cepat-cepat’ Mis: “Karya Tuhan Hendak Kupuji” MB-421 yg seharusnya lambat, seringkali dinyanyikan terlalu cepat. Juga lagu Bapa Kami – Filipina.
• Beliau bahkan menilai Dialog Pembuka Prefasi, yang di TPE 2005: “Sudah layak dan sepantasnya” dengan notasi yang benar dirasa terlalu “menganiaya” umat dengan tidak memberi kesempatan untuk bernafas.
• Menjawab pertanyaan apakah lagu bisa ditukar penggunaannya? Beliau menjawab harus dilihat isi syairnya, juga masa liturginya. Untuk masa tertentu misal, masa paskah lagu-lagu persiapan persembahan tidak mesti lagu tentang persembahan, tapi menyatakan kegembiraan kebangkitan (tematis). Juga lagu-lagu Maria, syairnya tidaklah selalu menyangkut pembuka, persembahan dll.
• Mengenai lagu-lagu gregorian, memang banyak diantaranya dihilangkan, terutama yang “agak susah” dinyanyikan umat. Juga Lagu Gregorian yang jika dinyanyikan dalam bahasa Indonesia, terkesan terlalu dipaksakan, sehingga menjadi tidak indah lagi. Tetapi masih banyak pula yang dipertahankan, terutama lagu-lagu Hari Raya dan umat sudah “familiar”
• Mengenai Vidi Aquam, pengganti Asperges me di masa paskah, beliau berpendapat, akan terlalu “menyiksa” umat apabila dipaksakan untuk dinyanyikan.
• Pada akhir pembahasan, beliau pun memberi masukan bahwa, kita di paroki yang berlindung dibawah naungan Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela, seharusnya banyak memberi salam kepada Bunda Maria. Untuk itu beliau mengusulkan untuk lingkungan yang bertugas, dapat menggunakan lagu-lagu Maria sebagai lagu penutup Ekaristi Mingguan.

djokobing,
tim liturgi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: