siapa mau peduli


View this document on Scribd

Tanggal 8 Dsember 2001, Sri Sultan Hamengku Buwoano X , selaku Kepala Daerah Istimewa Yogykarta berkenan meresmikan Pngembangan Gereja Hati Santa Perawan Maria Kumetiran(prasasti di dinding Gereja bagian belakang). Di senja hari di hari yang sama, Mgr.Ignatius Suharyo, Pr. Berkenan memimpin Ekaristi Kudus di gereja yang amat megah ini. Panitia beserta umat Kumetiran amat bersyukur dan bangga atas karunia Tuhan yang telah kita tunggu hampir 7 tahun, karena rencana yang dianggarkan menghabiskan dana 5,5 milyar rupiah itu dimulai tahun 1994. Tujuh tahun, laksana Raja Salomo mendirikan bait Suci ( 1 Raj.7: 37.Dalam tahun yang ke empat, dalam bulan Ziw, diletkkannya dasar rumah Tuhan, 38 dan dalammtahun kesebelas , dalam bulan Bul, yaitu bulan kedelapan , selesailah rumah itu dengan segala bagian-bagiannya dan sesuai dengan segala rancangannya ; jadi tujuh tahun lamanya ia mendirikan rumah itu.) Di sore hari setelah matahari terbenam banyak umat yang sengaja memandang gereja kita dari depan TK Indriyasana ( saat itu masih dijadikan kantor pembangunan), menatap ke arah utara gereja dengan tembok warna jambon, lampu yang sengaja dinyalakan sehingga bagian dalam gerja nampak jelas dari luar, kelihatan amat sangat anggun. Para panitia bersama umat masih mengenang bagaimana mangumpulkan dana serupiah dua rupiah dari umat dan dermawan, mengumpulkan batu bata dan pasir, saat itu dengan hati lega melihat hasilnya.

Setelah 11 tahun berlalu, banyak perubahan yang dilakukan oleh Dewan Paroki; beberapa yang bisa dirasakan umat ialah pemebenahan akustik dengan melapisi langit-langit dengan panil, sound system, memasang kembali papan INRI di atas korpus Yesus di atas tabernakel, lampu sorot ke arah salib, kipas angin, pemasangan kaca patri kiri kanan altar, pelepasan kaca di lubang angin bagian atas. Itulah perubahan yang dapat dirasakan oleh umat.

Tetapi ada hal memerlukan perhatian tersendiri ialah perawatan. Tidak menutup kemungkinan bahwa para penyelenggara pesta –pesta akan membuat dekor sebaik mungkin,sehingga pesta begitu bermakna dan meriah. Akan tetapi nampaknya, perhatian akan keindahan gereja belum terpikirkan. Dari bekas-bekas plastik isolasi yang tertempel di tiang(saka), bagian atas pintu masuk dan pintu samping tidak teperhatikan sampai bertahun-tahun.Akibatnya debu yang menempel makin tebal. Kadaan gereja kiat bisa di lihat dari foto-foto ini.
(Wakijan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: