KATOLIK SEJATI HARUS PEDULI DAN BERBAGI … Ah, yang bener aja!


Menyimak judul tema APP KAS tahun 2012 yaitu: “KATOLIK SEJATI HARUS PEDULI DAN BERBAGI” perasaan saya langsung mak cleng, perut saya mual, nafas saya sesak, perasaan penolakan (resistensi ) muncul. Rasanya saya kepingin muring-muring. Betapa tidak. Soal kata “katolik sejati”, ok, saya senang, memang saya ingin menjadi orang katolik yang semakin sejati. Mengenai kata peduli dan berbagi, saya tidak berkeberatan sebab persaudaraan akan semakin indah dan membahagiakan jika disertai dengan saling peduli dan berbagi. Yang bikin muak adalah kata HARUS. Spontan dalam benak saya timbul adanya tekanan, perintah yang disetai ancaman dari fihak luar atau atasan dengan tidak ada pilihan lain. Jujur saya, mungkin juga Anda, akan merasa lebih senang jika sikap peduli dan tindakan berbagi itu didasarkan pada kerelaan hati, dari dalam hati sendiri daripada diharuskan oleh fihak luar , apalagi fihak luar itu tidak membari kemungkinan lain. Pokoknya secara edukatif kata HARUS itu salah besar, khsusunya dalam pendidikan orang dewasa. Karena tidak ada pilihan lain orang tidak dimungkinkan berkembang menurut caranya sendiri.
Tetapi jika kata HARUS tersebut diartikan sebagai penekanan pada hakekat maka keharusan itu timbul bukan dari luar tetapi dari dalam. Contoh: “harimau harus memakan daging” artinya: pada hakekatnya harimau adalah pemakan daging. Contoh lain: “Ayam jantan harus berkokok, ayam betina harus berkotek”, “pohon kelapa harus tidak bercabang” . Jika demikian judul di atas bisa diubah demikian: ORANG KATOLIK SEJATI PADA DASARNYA PEDULI DAN BERBAGI. Jika keharusan orang katolik peduli dan berbagi hanya dimengerti sebagai tekanan dari luar, semangat atau rohnya tidak terpahami. Jika dilihat secara lebih cermat, Kis 4:32-36 tidak ada peraturan dari luar yang mengharuskan mereka peduli dan berbagi. Kepedulian dan keberbagian dalam kutipan di atas muncul dari kerelaan hati mereka satu dengan yang lain.
Pertanyaan selanjutnya adalah dari mana munculnya semangat tersebut? Semangat itu muncul dari hukum utama yang diajarkan Yesus adalah : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mrk 12:30-31)”. Alasan utama mereka peduli dan berbagi bukanlah karena keharusan dari luar dirinya melainkan dari hukum kasih. Kasih mereka kepada Tuhan menjadi dasar rasa kasih mereka kepada sesama. Dan kasih kepada sesama itulah dasar mereka untuk peduli dan berbagi. Dengan kata lain mereka peduli dan berbagi dengan sesama karena mereka mengasihi sesamanya. Dalam buku panduan renungan APP diajukan pertanyaan demikian: Apa yang kita pelajari dari Kis 4:32-36? Yang kita pelajari pertama-tama adalah semangat mengasihi sesama. Orang yang saling mengasihi mempunyai dorongan dalam hatinya untuk saling bertemu. Dalam pertemuan itu mereka saling peduli. Kepedulian mereka diwujud nyatakan dalam saling berbagi.
Pertanyaan selanjutnya adalah sejauhmana kita mengasihi sesama kita? Untuk mengukur kasih kita kepada sesama mari kita coba melihat tingkatan-tingkatannya:
1. Mengasihi orang yang mengasihi kita, menyenangkan kita, memenuhi harapan kita. Nah ini gampang sekali , anak kecil yang belum bisa bicara saja bisa melakukannya. Dengan kata lain jika kita hanya mampu mengasihi orang-orang yang demikian, kasih kita masih tahap kanak-kanak, bahkan bayi.
2. Mengasihi orang yang sama dengan kita. Barangkali sesama kita tidak menunjukkan kasihnya, tidak menyenangkan kita dan sebagainya, tepapi mereka memiliki kesamaan dengan kita misalnya dalam hal selera, hobby, minat, tempat asal, tempat sekolah dan sebagainya. Jika kasih kita setingkat ini kita masih bisa berkembang, sebab tingkatan ini adalah tingkatan remaja anak yang mencari grup, mencari teman, belajar bersosialisasi. Secara spontan mereka saling mendukung, saling berbagi informasi. Nah jika kasih kita sudah sampai pada tingkat ini berarti kita sudah sama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa(Mat 5: 46-47).
3. Mengasihi orang yang berbeda dengan kita. Semua orang senang jika didukung, dihargai, disemangati. Orang yang berbeda cenderung tidak memberi semangat bahkan mungkin mengganggu. Tetapi jika kita berhasil mengasihi orang yang berbeda kita sudah maju selangkah lebih dewasa.
4. Mengasihi orang yang menganiaya kita. Penganiayaan yang dilakukan bisa secara fisik, misalnya :memukul dengan tangan, menusuk, menggebuk, bahkan menembak. Dan pengaiayaan besa secara mental, misalnya: memaki-maki, memfitnah, mepermalukan di depan umum, membuat teror dengan telphon atau sms. Jika ada seseorang menganiaya kita sebenarnya siapakah yang terbukti jahat? Dan kalau kita membalas penganiayaannya, kita sama jahatnya. Tetapi hati ini sakit khan? Maka untuk dapat mengasihi mereka dibutuhkan proses pengampunan. Pengampunan akan berati mengobati diri sendiri, membahagiakan sendiri. Cara mudah mengampunai adalah membayangkan peristiwa yang menimpa itu kita anggap sebagai bencana alam atau kecelakaan lalu lintas, atau terkena virus, atau digigit binatang buas. Dengan begitu sakit hati bisa dinetralisir. Dan kemudian mendoakan mereka yang mengaiaya kita(Mat 5:44).
5. Mengasihi orang yang memusuhi kita. Orang yang memusuhi kita adalah orang yang secara permanen menolak diri kita karena diri kita dianggap menyusahkan dirinya atau diri mereka. Sebenarnya dengan memusuhi orang membuat dirinya sendiri sakit hati. Rasa sakit dalam hati adalah perasaannya sendiri. Perasaan sendiri adalah urusannya sendiri. Salahnya kerapkali orang menyalahkan orang lain atas perasaan sakit hatinya. Kasihan, orang yang demikian itu. Maka apa yang dapat kita lakukan adalah mengasihi mereka agar kita tidak ketularan sakit hatinya. Dengan kata lain kendati dimusuhi kita tetap bahagia karena bisa mengasihi musuh (Mat 5:46). Nah jika kita sudah sampai pada tahap ini kita sudah menjadi anak-anak Bapa di sorga yang , yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang tidak benar (Mat 5:45).
Jika kasih kita sudah pada tingkat III, maka tidak sulit bagi kita untuk peduli pada orang lain dan berbagi dengan orang lain, karena Roh Kudus sendiri akan memberi dorongan ke arah sana dan kita akan melakukannya dengan sukacita dan rela. Kemudian sukacita kita akan menjadi penuh (Yoh 10:10).
Yogyakarta, 19 Maret 2012
Fl. Hartosubono< Pr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: