Jujur dan rendah hati, syarat untuk berbagi


Selamat deh untuk Pengurus Dewan Paroki Kumetiran, karena berhasil menyelenggarakan Rapat Pleno pada hari Kamis, 16 Februari 2012. Agenda rapat untuk menyampaikan pertanggungjawaban program kerja tahun lalu dan sosialisasi program kerja berikutnya. Walaupun materi yang disampaikan belum sempurna, acara ini layak diberi apresiasi mengingat tidak mudahnya membuat program kerja, apalagi yang relevan dan signifikan. Pada akhir rapat disetujui bahwa laporan dan sosialisasi perlu disempurnakan berdasarkan beberapa koreksi. Sebagai team pelayan pastoral yang dipilih Tuhan, Pengurus Dewan Paroki tentu akan melaksanakan koreksi dengan sukacita. Melayani dengan jujur dan rendah hati adalah tuntutan bagi semua murid Kristus, karena mereka ini tidak mencari muka. Semuanya untuk kemuliaan Tuhan, dan biarlah aku menjadi semakin kecil, ”Ad maiorem Dei gloriam!” Dalam rangka inilah, maka peduli dan berbagi dengan sesama menjadi mungkin.
Untuk memasuki masa prapaskah, Gereja menyelenggarakan perayaan ekaristi Rabu Abu. Santo Yustinus yang hidup sekitar pertengahan abad II menulis bahwa pada waktu itu telah dikenal masa pertobatan, yakni masa selama 40 hari untuk mempersiapkan perayaan Paskah.

Perjanjian Lama
Pemakaian abu sebagai lambang pertobatan, kerapuhan, kehinaan, kefanaan dan perkabungan telah dikenal dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Kejadian (Kej 2:7) dikisahkan bahwa manusia dibentuk dari debu tanah yang dihembusi nafas kehidupan oleh Tuhan. Pada saatnya nafas kehidupan ini kembali kepada Tuhan, maka manusia akan kembali menjadi debu tanah. Kenyataan ini mengajak kita untuk menyadari betapa rapuh, hina dan lemahnya manusia, sehingga manusia dekat dengan dosa (Ayb 30:19, Kej 18:27). Dalam Perjanjian Lama ada kebiasaan menjalankan upacara pertobatan dan perkabungan dengan duduk bersimpuh di atas debu dan menaburi diri dengan abu itu (Lih. Yes 58:5; 61:3; Yer 6:26). Dalam Kitab Yunus diceritakan setelah Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu (Yun 3:6). Dan dalam kitab Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1). Demikian juga dengan Ayub yang menyatakan penyesalan atas dosa-dosanya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6).

Sejarah Pertobatan
Gereja Perdana melanjutkan penggunaan abu dalam perayaan liturgi dengan makna simbolik yang sama. Dalam bukunya De Poenitentia, St. Tertulianus (160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu”. St. Eusebius (260-340), menceritakan tentang seorang murid yang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Pada masa itu, imam menaburkan abu ke atas kepala seorang peniten setelah ia mengakukan dosanya dan menyatakan pertobatan di hadapan umum. Dalam abad kedelapan, mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam memberkati orang tersebut dengan air suci, sambil mengatakan “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu (you are dust, and to dust you shall return)”. Pada tahun 1091 dalam sinode di Benevento, Paus Urbanus II menetapkan tatacara penerimaan abu untuk seluruh Gereja yakni untuk para klerus dan awam laki-laki abu ditaburkan di atas kepala sedang untuk para wanita abu dioleskan di dahi dengan tanda salib.

Jangan Munafik!
Ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan, antara hidup rohani dan hidup jasmani, antara upacara ritual ibadat dengan kehidupan sehari-hari menjadi masalah pokok dalam penghayatan hidup beriman. Nabi Yesaya mengingatkan, “Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi”. (Yes. 58:4). Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21) sedang St. Yakobus mengungkapkan, “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak 2:17.26). Nabi Yoel dengan tegas menyatakan dalam: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” (Yoel 2:13). Yang diinginkan Tuhan bukanlah hanya sekedar ritual tetapi terutama hati yang menyesal dan remuk redam. Kegiatan ritual tanpa diikuti dengan perubahan sikap sebagai hasil dari sebuah pertobatan hanya menjadi sebuah kemunafikan, sikap hipokrit dan palsu. Seorang aktor dalam sebuah sinetron mendapat pujian apabila dia bisa berakting sesuai dengan perannya penuh penghayatan. Pertanyaannya ialah apakah aktor yang berperan sebagai suami dan mencintai isterinya itu dalam kenyataannya juga demikian? Belum tentu, mungkin saja tidak! Cintanya itu hanya kepura-puraan, hanya akting belaka!
Tanpa disadari dalam realitas hidup yang konkret kita sering melakukan akting. Kita berakting sebagai orang saleh, baik, setia, jujur agar dipuji orang, padahal kenyataan yang sesungguhnya tidak demikian. Tuhan tidak senang dengan semua bentuk kepalsuan itu, sebab kasih-Nya kepada kita bukan kepura-puraan. Tuhan bersabda: “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga”. Mari kita hidup jujur dan rendah hati dalam kehidupan konkret sehari-hari, agar bisa peduli untuk berbagi! Berkah Dalem (ry@mto).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: