Berbahagiakah Anda di hari tua?


Tokoh kitab suci yang bahagia
Menjelang dan sekitar kelahiran Yesus ditampilkan tokoh-tokoh yang punya peranan dalam perwujudan karya penyelamatan Allah. Hana seorang nabi wanita yang sudah lanjut, tidak pernah absen. Setiap hari ia berada di kenisah untuk berdoa dan beribadah . dia mengalami kegembiraan rohani, karena hari-harinya penuh dengan berkat. Simeon hadir juga di Kenisah karena mendapatkan “Wasiat dari Tuhan” bahwa tidak akan meninggal sebelum melihat Mesias. Maka ketika menjumpai kanak-kanak Yesus, Siemoan menatapnya dan bersyukur “Tuhan perkenankanlah hambaMu berpulang, sebab mataku telah melihat keselamatan.” Doa seorang Simeon tua yang rela mati, karena sudah mengalami kebahagiaan. Zakaria, bapak Yohanes Pembaptispun mengalami sukacita dan kegembiraan justru di hari-hari tuanya.

Lansia = lanjut usia
Ada banyak istilah atau nama yang digunakan untuk menyebut kelompok (paguyuban orang-orang lanjut usia). Di paroki kita, paguyuban orang lanjut usia minimum umur 55 tahun disebut “Lansia Zakhel.” Lanjut usia (lansia) yang berlindung pada Zakharia-Elizabeth, orang tua Yohanes pembaptis. Kegiatan mereka = senam lansia (kamis sore), ziarah pemeriksaan kesehatan rutin, dll. Di salah satu lingkungan di paroki kita (Gampingan) ada paguyuban yang disebut “Wulan” (Wanita usai lanjut)
Ada juga yang menyebut “Adi Yuswa” kelompok para lanjut usia di paroki Wates Kulon progo. Ini mengaku diri sudah yuswa (umur tua/lanjut) tetapi masih kerap dan tetap ingin adi (kuat, sehat, punya nilai lebih). Kegiatan yang mereka lakukan antara lain misa kelompok, kunjungan , ziarah dan lain-lain.
Paguyuban lanjut usia di paroki Baciro lebih seru. Mereka menyebut diri “Glamour” singkatan dari Golongan lanjut umur. Bahkan mereka punya kelompok koor rutin yang bertugas di gereja hari minggu dan event-event khusus. Koor Glamour punya dirigen sendiri, pelatih sendiri, solis sendiri, bahkan punya organis sendiri, yang semuanya sudah lanjut/yuswa

Masa tua = masa memetik buah
Kita ikut gembira, bukan ? kala melihat orang tua kita masing-masing mengalami hidup senang di masa tuanya. Senang di masa tua adalah hasil/buah dari perjuangan mereka di masa lalu (=masa mudanya). Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenag-senang kemudian. Jangan harap masa tua akan tenang dan senang, kala masa muda enak-enakan (=maaf seenaknya). Masa muda masa juang, masa tua masa senang. Masa muda masa menanam, masa tua masa memetik. Untuk yang masih muda janganlan menyia-nyiakan mada muda untuk hal-hal yang tak penting. Berkegiatan dan beraktivitaslah dengan hal-hal yang berguna untuk investasi dan asuransi di masa mendatang.

Menyiapkan masa tua yang (akan) bahagia
Jangan menyesal kalau ada diantara kita yang mengisi masa tua ini dengan hal-hal yang semestinya dilakukan masa(dulu) muda. Waktu tidak pernah bisa kembali ke masa lampau. Yang bisa dibuat ada;lah mensyukuri apapun yang ada di depan kita. Apapun yang Tuhan berikan untuk kita miliki dan nikmati. Penting juga, mulut kita menasehatkan anak cucu atau generasi-generasi muda (lebih muda) agar memikirkan serius masa tua dengan mengisi hidup sekarang ini.(hic et nunc) sebaik mungkin.alangkah baiknya pula generasi yang dibawahnya mulai terlibat dengan menjadi pemerhati lansia.

Menyongsong kematian
Kematian merupakan peristiwa yang tak pernah bisa dielakan dan ditolak. Kapanpun, kita tidak pernah (akan) tahu, tetapi pasti (akan) terjadi. Yesus mengingatkan “berjaga-jaga dan bersiap siagalah, karena anak manusia datang pada saat yang tidak kamu sangka-sangkakan.” Yang paling baik adalah menyiapkan kematian ini dengan penuh iman, harapan dan kasih. Kita percaya kematian mengantar kita mengalami perjumpaan secara pribadi (face to face) dengan Tuhan. Kita tetap punya harapan, kerabat yang kita tinggalkan dijagai dan dilindungi Tuhan.
Ada kalanya kita menghadapi kematian dengan penuh ketakutan, kekuatiran, kesepian ditinggalkan, dipisahkan dengan semua orang yang kita cintai, kita merasa sendiri.
PR untuk kita masing-masing, kalau kita bahagia kita akan mati dengan bahagia. Kalau masa tua kita masih penuh duka, masalah , problem, dan lain-lain. Mari kita “pepetri” supaya tidak menjadi hambatan untuk menyongsong kematian dengan penuh sukacita.
-Rm.Atas-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: