SPIRITUALITAS MANJA – no way


Mungkin tidak semua orang mempunyai pengalaman menanam. Ada juga yang mempnyainya mungkin dalam menanam tanaman hias, tanaman buah-buahan ataua sekedar tanaman pagar. Bagi mereka yang belum pernah menanam saya kira tidak sulit membayangkan bagaimana proses tamenanam tanaman. Ketika masih kecil, tanaman itu disemai, dipupuk, disiram, diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari sesuai dengan kebutuhannya. Makin lama perawatan tanaman makin kurang intensif. Ambil saja contoh tanaman mangga. Semakin besar tanaman mangga semakin sedikit dibutuhkan perawatan. Adalah menarik bahwa ketika sudah menjadi besar dan kurang membutuhkan perawatan pohon mangga itu justru mengeluarkan buah.
Nah, kalau yang ini semua orang pernah mengalami meskipun coraknya berbeda-beda. Katika masih kecil kita dirawat oleh orang tua. Kita dimandikan, ditidurkan, diberi minum dan makan, diberi pakaian, dibelai-belai, dimanja, digendong ke mana-mana. Terus kita disekolahkan, dibawa ke dokter, dikenalkan dengan sanak saudara, diajak ke sana ke mari, dikasihi dan dimanja. Mungkin bagi banyak orang pengalaman masa kecil adalah pengalaman hidup yang paling indah karena kita tidak perlu berfikir dan bertindak ini dan itu. Semua kebutuhan kita sudah terpenuhi. Dan semakin menjadi besar kita semakin banyak melakukannya sendiri: mandi sendiri, makan sendiri, minum sendiri dan seterusnya. Makin lama makin banyak kebutuhan yang bisa kita penuhi sendiri. Bahkan kalau tanaman menghasilkan buah maka manusia juga menghasilkan buah, menolong orang lain. Pada gilirannya ketika sudah menjadi diwasa dan orang tua kita makin banyak melakukan sesuatu untuk orang lain: menyediakan penghidupan untuk keluarga, membahagiakan pasangan hidup, merawat dan mendidik anak dan sebagainya.
Pepatah berkata: pengalaman adalah guru yang paling baik. Pengalaman akan menjadi guru yang lebih bagus lagi jika kita refleksikan. Nah, mari kita merefleksikan pengalaman menanam tanaman dan pengalaman masa kecil kita sampai menjadi seperti sekarang ini. Untuk memulainya coba amai bentuk kalimatnya: masa kecil banyak memakai kalimat pasif dengan awalan DI ……. Kalau tanaman disemai, disirami, dipupuk dan sebagainya. Kemudian, manusia seperti kita dirawat, dimandikan, diberi makan dan seterusnya. Seturut dengan perkembangan kedewasaan kalimat-kalimat yang digunakan adalah kalimat akif dengan awalan ME …….. seperti menyelesaikan pekerjaan, memenuhi janji, mencari penghasilan dan seterusnya. Poreses menjadi jelas yaitu: pada awalnya segala dibantu – mandiri – dan melakukan sesuatu untuk fihak luar dirinya. Ini proses normal. Kalau orang sudah dewasa masih banyak menggunakan kalimat pasif, masih ingin dimengerti, dilayani dan dimanja itu abnormal atau sekurang-kurangnya mengalami gangguan sehingga terjadi keterlambatan perkembangan.
Itu semua adalah perkembangan relasi kita dengan orang-orang di sekitar dan dan alam semesta. Relasi kita dengan Tuhan tidak banyak berbeda. Ketika hidup rohani kita masih bayi kita masih dimanja-manja, merengek ini itu, kepada Bapa di Surga, penginnya semua permintaan dipenuhi, bahkan kalau perlu tanpa usaha sendiri. Dan memang bisa jadi demikian karena Allah adalah maha baik, maha kasih, maha kaya raya dalam segala hal. Renungan-renungan masa adven menyiratkan nuansa kebaikan Allah. Inkarnasi memang membawa pesan bahwa Allah sangat baik dan berfihak pad keprihatinan kita. Allah memang sungguh baik. Bisa jadi kita salah mengerti dan memanfaatkan kebaikan Allah. Justru karena Allah adalah Bapa yang maha baik, Dia tidak ingin kita mengalami keterlambatan dalam perkembangan. Allah tidak ingin memanja-manjakan kita terus menerus. Dalam perkembangan hidup rohani kita tidak bisalah kita terus menerus mengajukan permohonan dengan rengekan-rengekan yang memelas atau tangisan keras memberontak. Kalau kita mau berkembang normal kita perlu melalui proses memperbesar kemandirian dan bahkan kemudian berbuat banyak bagi orang lain, dan akhirnya semuanya itu dilakukan untuk Tuhan. Memang iya sikh, Tuhan tidak membutuhkan perbuatan baik kita, tetapi mengucapkan terima kasih adalah sehat karena kita tahu menghargai kebaikan.
Bukti perkembangan kematangan hidup rohani sepetur Natal adalah para gembala dan tiga raja. Mereka tidak mendatangi kanak-kanak Yesus dengan mengajukan permohonan, melainkan mempersembahkan sesuatu. Bahkan tiga raja itu mempersembahkan sesuatu yang paling berharga. Bagimana perasaan mereka? Gembira, senang, happy. Mari kita tunjukkan bahwa kita ini orang-orang dewasa rohani yang gembira karena dapat mempersembahkan sesuatu untuk Tuhan, GEMBIRA KARENA MELAYANI TUHAN. Itulah tema Natal kita di tahun 2011 ini. Selamat natal.
Yogyakarta, 12 Desember 2011
Fl. Hartosubono, Pr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: