Kambingpun bisa menjadi raja hutan


Menindaklanjuti kunjungan Dewan Paroki ke Wilayah 13 beberapa waktu yang lalu dan menyarankan agar lingkungan – lingkungan bisa mengadakan suatu kegiatan yang mandiri, murni hanya dalam lingkup lingkungan, maka pada tanggal 18 Oktober 2011 bertempat di rumah keluarga bapak Suntoro, lingkungan St. Lukas PTGGI–2 menyelenggarakan Misa Syukur pesta nama Santo Lukas sebagai santo pelindung lingkungan. Tidak seperti biasanya, setiap ada perayaan misa kami mengundang umat di Wilayah kami, kali ini misa hanya dihadiri umat lingkungan St. Lukas PTGGI–2.

Kita mengenal Santo Lukas karena beberapa alasan. Pertama, dia salah satu pengarang Injil Sinoptik yang memberitakan peristiwa Yesus Kristus kepada kita. Kedua, Santo Lukas adalah penulis Kisah Para Rasul yang memberitakan tentang kehidupan Gereja Katolik awali. Ketiga, Santo Lukas itu pengarang Injil yang menyajikan Yesus Kristus secara berbeda-beda.

Rupanya hal ini sesuai dengan apa yang diharapkan Rm.F.Hartosubono sebagai romo Paroki Kumetiran yang memimpin misa pada waktu itu. Jumlah umat Kumetiran terakhir 8784 orang, dan menurut survai yang dapat dijangkau atau dilayani kurang lebih hanya sekitar 3500 umat. Lalu yang 5000 umat kemana?. Mengacu dari hal tersebut maka romo Bono memandang perlu adanya pelayanan di lingkungan-lingkungan agar semua umat dapat terlayani dengan harapan supaya umat di lingkungan menjadi suatu kelompok persaudaraan yang diharapkan menjadi satu komunitas yang akrab satu dengan yang lain, saling memperhatikan, saling melayani dan saling peduli satu dengan yang lain. Bilamana umat di lingkungan sudah saling peduli, maka akan bergerak ke luar (sentripetal) memikirkan orang lain bukan hanya memikirkan dirinya sendiri (sentrifugal).

Dalam homilinya Romo Bono menceritakan bagaimana kambing bisa mengalahkan singa sang raja hutan yang bengis dan kejam. Singa sang raja hutan yang selalu meminta persembahan dan kurban dari para penghuni hutan dapat dikalahkan oleh tipu muslihat dari seekor kambing yang dibantu dan didukung oleh kekompakan komunitas penghuni hutan lainnya. Mereka walaupun lemah bersatu padu mengatur siasat bagai mana caranya bisa mengalahkan singa yang begitu kuat. Secara logika tidak mungkin kambing bisa mengalahkan singa, tetapi karena kebersamaan sebuah komunitas yang saling membantu singa dapat dikalahkan dan akhirnya kambing menjadi raja hutan.
Lewat cerita tersebut romo Bono ingin menyampaikan bagaimana suatu kebersamaan komunitas di lingkungan yang saling mengalah (sikap rendah hati), saling berkorban, saling menolong, berunding untuk dapat mencapai sesuatu yang besar.

Sebagai penutup romo Bono mengharapkan bagaimana semangat Santo Lukas bisa menjiwai semangat umat di lingkungan PTGGI – 2. Santo Lukas belum pernah bertemu Yesus, tapi dia begitu terpesona dengan ajaran Paulus sehingga dengan keterampilannya menulis menginginkan semua orang mengetahui siapa Yesus sesungguhnya. Akhirnya dengan segala kerendahan hati Santo Lukas rela mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Semangat yang dapat diambil dalam diri Santo Lukas ialah semangat peduli terhadap penderitaan orang lain dan semangat menjadi pewarta yang handal.

Setelah misa selesai acara dilanjutkan dengan ramah tamah sambil menikmati hidangan sumbangan dari umat Lingkungan PTGGI – 2. Terimakasih buat Romo Bono yang telah begitu setia dan komit mendampingi dan melayani kami, juga untuk semua umat di Lingkungan St. Lukas PTGGI – 2 atas partisipasinya yang dengan tulus membantu terlaksananya Misa Syukur Pesta Nama Santo Lukas. Tuhan memberkati.

Stefanus Sugianto
Ketua Lingkungan St. Lukas PTGGI – 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: