Allah, awal dan akhir!


Pengantar
Hari Minggu, 20 November 2011 Gereja mengakhiri perjalanan tahun liturgi A dengan menyambut Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini ditetapkan pertama kali oleh Paus Pius XI dalam ensiklik “Quas Primas” pada tahun 1925. Ensiklik ini dikeluarkan untuk menanggapi munculnya gejala materialisme, atheisme, dan sekularisme. Intinya Bapa Suci mengajak seluruh umat Kristiani untuk menempatkan Kristus di dalam hidup masing-masing sebagai Raja Semesta Alam. Arus sekularisme cenderung menganggap Allah tidak ada. Jika Kristus menjadi Raja Semesta Alam, berarti Dia merajai manusia sebagai individu, keluarga, komunitas, pemerintah dan bangsa-bangsa. Ensiklik ini dikeluarkan ketika penghormatan terhadap Ekaristi, terhadap Kristus dan Gereja sedang melemah. Dengan ditetapkan sebagai Hari Raya, berarti pemuliaan Kristus Raja Semesta Alam senantiasa relevan dan untuk itu dikehendaki agar dilaksanakan secara tetap sepanjang masa.

Bahayanya sekularisme
Dalam hidup ini manusia sering memperhitungkan untung rugi terhadap pengorbanan yang dilakukan. Dia berpikir: Jika saya memberi, saya akan kekurangan. Bagaimana mengatasinya? Atau, bagaimana kalau ternyata saya ditipu? Tapi sadarkah bahwa setiap kita memberi, ada sepercik suka cita di hati? Sungguh tidak bisa dibayangkan, apa yang terjadi bila dalam hidup bersama tidak ditemukan cintakasih, pelayanan dan pengorbanan. Orang bisa hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, apalagi tidak ada sesuatu yang berarti kecuali materi dan segala hal yang berbau duniawi. Pernah ada umat yang mengajukan usul kepada Bapak Uskup, agar semua imam itu digaji saja. Harapannya ialah supaya mereka bisa bekerja dengan lebih baik dan bersemangat. Apa jawaban diperoleh dari Bapak Uskup? Monseignor berkata: ”Memang tidak ada uang untuk menggaji para imam, tetapi kalau semua hanya dihargai dengan uang, lalu dimanakah letak dedikasi, pengabdian, & pengorbanan? Bukankah hal itu jauh lebih berarti dan berdaya daripada uang? Mother Teresa pernah berkata: “Lakukan apa yang menjadi bagianmu, dan jangan berpikir apa yang akan kau dapat, bila ingin memberi, lakukan saja karena semuanya akan kembali kepadamu juga”. Tuhan itu tahu apa yang harus dilakukan, tidak usah didikte, semuanya akan terjadi dan indah pada waktunya!
Maka kiranya tidak tepat kalau manusia memperalat Tuhan sebagai pihak penyelesai masalah. Bukankah Dia sebenarnya biasa memperalat masalah agar kita bisa mendekat kepada-Nya? Jangan menganggap Dia alat yang bisa kita pakai hanya ketika masalah datang dan kita lupakan ketika masalah hilang. Benarlah perkataan ini: ”Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan” (Amsal 11:24)

Aktualitas Iman
Matius 25, 31-46 memberikan gambaran tentang apa yang akan terjadi pada akhir jaman: Anak Manusia akan menjadi hakim bagi semua bangsa, dan bahwa mereka yang telah berbuat baik kepada-Nya akan mendapat pahala, sedangkan yang tidak punya kepedulian akan dihukum. Banyak orang tidak menyadari bahwa perlakuan kepada salah seorang yang paling hina sama dengan perbuatan yang dilakukan terhadap-Nya. Kisah yang ditampilkan oleh Matius pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini tidak dimaksudkan untuk memberi tahu apa yang akan terjadi pada akhir jaman. Ini bukan pengetahuan mistik tentang akhir jaman, tetapi sebuah pernyataan bahwa hidup di jaman sekarang ini ada hubungannya dengan jaman yang akan datang, sejauh orang mau menjadi “saudara” Yesus sekecil dan sehina apapun, sehingga orang lain akan selamat bila kita membiarkan diri menjadi jalan terang bagi mereka melalui perbuatan baik dan karya pelayanan sehari-hari. Jika orang lain melihat integritas diri kita niscaya mereka akan memperlakukan kita dengan baik dan memperoleh keselamatan. Jadi, bukan karena perbuatan baik mereka kepada kita yang menyebabkan mereka mendapat hadiah dan ganjaran dari Allah, tetapi karena mereka melihat kebaikan dalam diri kita dan menjadi percaya. Inilah maksud dari universalitas keselamatan dan sekaligus jawaban mengapa Yesus disebut sebagai Raja Semesta Alam. Jadi tekanannya bukan pada soal berbuat baik untuk bisa mendapatkan ganjaran, tetapi justru ini merupakan panggilan sekaligus tantangan untuk mengikuti Yesus sebagai umat terpilih.

Kemurnian motivasi
Dalam bacaan Injil tadi Raja mengidentifikasikan diri-Nya sebagai kelompok KLMTD tersebut, seperti dikatakan-Nya: ”Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Identifikasi Raja dengan KLMTD ini tentu saja mengejutkan mereka yang akan diadili. Pertanyaan mereka: ”Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?” Mereka terkejut karena menolong dan memperhatikan kaum KLMTD sama dengan menolong Tuhan sendiri. Artinya, selama ini mereka melakukan kebaikan bukan karena identifikasi Tuhan di dalam KLMTD tetapi karena melihat bahwa orang-orang itu sungguh membutuhkan pertolongan. Dialog ini secra tidak langsung menunjukkan kemurnian motivasi orang-orang benar itu dalam berbuat baik. Sebaliknya terjadi pada kelompok di sebelah kiri Raja. Mereka tidak peduli dengan kaum KLMTD. Oleh karena itu, mereka terkejut karena tidak menolong kaum KLMTD sama dengan tidak peduli dengan sang Raja sendiri.
Tuhan Yesus menegaskan pesan perumpamaan eskatologis tersebut dengan menuntut kesediaan umat untuk saling mengasihi, memperhatikan dan memberi pertolongan. Raja sendiri kemudian mengatakan: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

Ulat dan pohon mangga
Ada kisah tentang seekor ulat dan pohon mangga: Seekor ulat yang kelaparan terdampar di tanah tandus. Dengan lemas ia menghampiri pohon mangga sambil berkata: “Aku lapar, bolehkah aku makan daunmu?”. Pohon mangga menjawab, “Tanah di sini tandus, daunku pun tidak banyak. Apabila kau makan daunku, nanti akan berlubang dan tidak kelihatan cantik lagi. Lalu aku mungkin akan mati kekeringan. Tapi baiklah, kau boleh naik dan memakan daunku. Mungkin hujan akan datang dan daunku akan tumbuh kembali”. Ulat naik dan mulai makan daun-daunan. Ia hidup di atas pohon itu sampai menjadi kepompong dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Iapun kemudian menyapa pohon mangga: “Hai pohon mangga, lihatlah aku sudah menjadi kupu-kupu. Terima kasih karena telah mengizinkan aku hidup di tubuhmu. Sebagai balas budi, aku akan membawa serbuk sari hingga bungamu dapat berbuah”.
Pohon mangga tidak mengharapkan sesuatu ketika membiarkan ulat memakan dau-daunya. Namun, ulat tidak bisa tinggal diam ketika ada panggilan tugas menantang. Demikianlah hidup ini terasa lebih indah kalau orang berani peduli terhadap sesama. Akan terjadi hal-hal yang menakjubkan dan tidak pernah direncanakan sebelmunya.

Penutup
Dalam rangka merenungkan pribadi Allah sebagai awal dan akhir tujuan hidup manusia, ada baiknya bila cermati ungkapan dibawah ini:
Ada hal dalam hidup yang tidak bisa kembali: Waktu , kata-kata, dan kesempatan.
Ada hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang : Kemarahan, keangkuhan, dan dendam.
Ada hal yang tidak boleh hilang : Harapan, keikhlasan, dan kejujuran.
Ada hal yang paling berharga : Kasih sayang, cinta, dan kebaikan.
Ada hal dalam hidup yang tidak pernah pasti : Kekayaan, kesuksesan, dan mimpi.
Ada hal yang membentuk watak seseorang : Komitmen, ketulusan, dan kerja keras.
Ada hal yang membuat kita sukses : Tekad, kemauan, dan fokus.
Ada hal yang tidak pernah kita tahu : Rezeki, umur , dan jodoh.
TAPI, ada hal dalam hidup yang pasti : Tua, sakit, dan kematian.

Rm FX Suyamta Pr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: