Kawin Campur


Pada hari Jumat (30/9) bertempat di panti paroki atas diadakan acara yang membahas persoalan kawin campur. Sebagai narasumber dalam pertemuan itu yaitu Rm.R.Rubiyatmoko,Pr dari Seminari Tinggi St.Paulus Kentungan. Dalam pemaparannya romo yang akrab disapa romo Rubi ini menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kawin campur.
Sekilas ajaran gereja tentang perkawinan :
Pada hakikatnya, perkawinan dimengerti sebagai suatu persekutuan hidup yang total, eksklusif, dan kekal antara dua orang berbeda seksualitas, yang dimulai ketika keduanya saling bertukar janji nikah. Perkawinan selalu dimaksud sebagai suatu bentuk hubungan antar pribadi yang sangat khusus dan istimewa. Perkawinan ini mempunyai ciri hakiki kesatuan (unitas) dan ketidakterceraian (indissolubilitas). Sekali melangsungkan perkawinan secara sah, kedua pribadi masuk dalam suatu ikatan yang tak mungkin mereka lepaskan lagi. Karena itu sekali menikah secara sah, suami isteri berada dalam suatu ikatan yang bersifat eksklusif (tidak memungkinkan pihak lain masuk di dalamnya) dan tetap berarti ikatan tersebut bertahan sampai Tuhan sendiri memisahkan mereka. Perkawinan yang dilangsungkan oleh dua orang yang dibaptis, baik baptis katolik maupun baptis non katolik, adalah sakramen. Maksudnya, perkawinan itu merupakan bentuk partisipasi umat beriman dalam kasih Kristus kepada gerejaNya. Selain menjadikan kasih Kristus kepada gerejaNya sebagai model ideal hidup perkawinannya, suami isteri terikat kewajiban untuk mewujudkan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah gereja biasa menyebut perkawinan sebagai lambang atau tanda sekaligus kenyataan keselamatan.

Istilah kawin campur ditangkap dan dimengerti secara berbeda-beda dalam masyarakat dan gereja. Dalam gereja perkawinan campur dibedakan menjadi dua yaitu perkawinan campur beda gereja(mixta religio) dan perkawinan campur beda agama(disparitas cultus). Bagi gereja katolik kawin campur bukan hanya sekedar masalah hukum atau aturan, melainkan masalah yang menyangkut berbagai macam segi, seperti antropologi/psikologis (harmoni antar suami isteri), moral/teologis (kebebasan hati nurani, kebebasan agama, kebebasan memilih jodoh, pendidikan anak), sosiologis (situasi masyarakat, paroki, lingkungan dan sebagainya). Bagi gereja katolik, baik perkawinan campur (beda gereja) maupun perkawinan beda agama mengandung bahaya yang serius terhadap kehidupan iman orang katolik secara umum dan pelaksanaan hak dan kewajiban secara khusus. Karena itu perkawinan campur (beda gereja) dilarang dan menjadi tidak layak, kecuali dengan izin otoritas berwenang ; dan perkawinan beda agama dihalangi dan menjadi tidak sah, kecuali dengan dispensasi dari otoritas yang berwenang.
Untuk mendapatkan izin dan dispensasi, gereja menetapkan beberapa syarat sebagai berikut : alasan yang wajar dan masuk akal, kesediaan pihak katolik untuk tetap bertahan dalam iman katolik dan menjalankannya dengan setia serta berjanji untuk sekuat tenaga membaptis dan mendidik anak secara katolik, pernyataan mengetahui dari pihak non katolik, dan pengajaran tentang tujuan dan ciri hakiki perkawinan kepada kedua pihak. Semua norma yang ditetapkan merupakan ungkapan pelaksanaan tugas gereja Katolik untuk melindungi umat katolik dan menjaga nilai-nilai luhur perkawinan.
Pertemuan ini dihadiri oleh 47 prodiakon dan 42 umat yang ikut hadir. Pertemuan yang membahas materi yang cukup serius namun oleh rm.Rubi dikemas dengan penuh canda dan guyonan.
-siGal-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: