Yesus Sang Pendidik


Seorang ibu memiliki empat orang anak. Ibu itu bernama ibu Jari. Semua anaknya diberi nama keluarga Jari. Lihatlah nama-nama mereka dari yang pertama sampai terakhir: Jari Telunjuk, Jari Tengah, Jari Manis , dan yang bungsung bernama Jari Kelingking . Suatu ketika terjadi wawancara sebagai berikut:
Jari Telunjuk, si bungsu: “Adik, bunuhlah si Jari Tengah.”
Jawab Jari Kelingking, sang bungsu: “Apakah dosanya sampai dia harus dibunuh?”.
“Dosa dia adalah suka mengguli aku, lihatlah tubuhnya lebih tinggi daripada aku khan?”.
Kata Jari Manis: “Jangan, sekali-kali jangan dilakukan hal itu adik”.
Jari Kelingking: “Memangnya kepada kak?”
Jari Manis: “Sebaba menghormati orang yang lebih tua itu mendatangkan berkat dan melecehkan orang tua itu mendatangkan kutuk.”
(Inilah ceritera aslinya dalam bahasa Jawa dalam bentuk tembang Pocung.
Enthik-enthik, patenana si penggul.
Lha dosane apa?.
Dosane ngunggu-unggul.
Di aja di wwong tuwa iku malati.)
Anda pasti sudah menangkap lambang itu, yaitu suasana kekeluargaan yang dilambangkan dalam jari tangan kita: ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking.
Cara ini adalah cara pertama menyampaikan ajaran dalam bentuk ceritera yang kaya akan makna. Sedangkan cara kedua dalam bentuk uraian yang mengajarkan bahwa:
1. Orang yang lebih tua berkewajiban melindungi adik-adiknya yang lebih muda.
2. Orang muda berkewajiban menghormati orang tua.
3. Oarng yang lebih tua dan orang yang lebih muda tersatukan bagaikan suatu keluarga.
Yesus sangat sering menggunakan cara pertama untuk menyampaikan ajaran-Nya yaitu dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan dan ceritera. Dari Injil Matius saja kita dapat menemukan perumpamaan-perumpamaan misalnya: garam dan terang dunia (Mat 5: 13-16), burung pipit dan bunga bakung (Mat 5: 25 – 30), cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat 10:16). Perumpamaan-perumpamaan itu juga dikemas dalam bentuk ceritera seperti tertulis dalam Mat 13:1 – 23 (penabur); Mat 13:24-30 (lalang di antra gandum); Mat 13;47 – 51 (pukat) dan masih banyak lagi. Ceritera dan perumpamaan ini masih bisa ditambah dan diperjelas dalam Injil Markus dan Lukas.
Tidak diragukan lagi, Yesus memang seorang pendidik yang hebat karena ajaran-Nya dikemas dalam bentuk ceritera yang diambil dari kehidupan sehari-hari yang diakrabi oleh para pendengar-Nya sehingga mudah difahami. Ajaran dalam bentuk ceritera itu mengajak orang untuk merenung dan membujuk diri sendiri untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, tanpa keharusan, tanpa tekanan yang disertai ancaman, tetapi menurut kesadarannya sendiri. Dengan kata lain Yesus menyampaikan ajaran-Nya dengan persuasif. Ketika orang sudah meresapkan dalam hati orang akan terdorong dari dalam (tersugesti) untuk mengubah diri.
Dan sekarang ini ketika Yesus sudah bangkit dan hadir di tengah-tengah kita, Dia juga membantu kita secara lembut untuk dapat mengerti ajaran-Nya dan membantu kita untuk mampu melaksanakannya.
Pada Bulan Kitab Suci Nasional ini, jika kita membaca Injil khusus tetang ceritera-ceritera yang diceriterakan Yesus saja, kita sudah akan mendapatkan kekayaan makna dan diberkati oleh-Nya untuk dapat melaksanakannya.
Rm.Bono,Pr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: