Siapakah yang berkenan menyapa mereka. (Misa Pelajar SMP,SMA,SMK Negeri Paroki Kumetiran)


Tahun 2008, pada suatu hari Jum’at, penulis pulang ke desa untuk membersihkan rumah. Saat istirahat, menghampiri tempat parkir Sendang Jatiningsih yang hanya berjarak 100 meter dari rumah. Nampak beberapa anak berseragam SMA mengendarai sepeda motor berhenti meminta karcis parkir. Menurut mereka, berasal dari salah satu SMA Negeri di kaki bukit Menoreh Kulonprogo. Kagum dan heran menyaksikan hal tersebut, karena anak-anak seusia mereka usai sekolah menyempatkan diri berziarah ke goa Maria. Keheranan baru terjawab di saat rapat panitia Misa Palajar DIY tahun 2010. Salah satu anggota panitia berasal dari SMA Negeri di Kulonprogo tersebut. Beliau berkata:” Prihatin pak , melihat anak-anak Katolik di sekolah Negeri. Setiap hari Jum’at pulang lebih awal. Siswa-siswa muslim berkumpul untuk Jum’atan, sementara anak-anak Katolik tidak ”kopen”, kluyuran. Saya ajak mereka ke Jatiningsih untuk berdoa setiap hari Jum’at.” Ternyata waktu itu, pak guru yang bukan guru agama itu tidak ikut serta karena ada tugas.

Dari situlah Tim Kerja Pendidikan Dewana Paroki HSPMTB Kumetiran ikut tergugah, karena kebiasaan misa Jum’at pertama bagi anak-anak sekolah negeri di Paroki agak terhenti. Memang di kota Jogjakarta ada semacam peguyuban siswa-siswa sekolah Katolik yang diasuh oleh para guru agama. Sehingga di beberapa Paroki kota, pada hari Jum’at diselenggarakan misa pelajar. Tidak ketinggalan di beberapa rayon Paroki. Kepengin akan hal tersebut, Tim Kerja Pendidikan ingin membangkitkan kembali kebiasaan misa pelajar sekolah non Katolik di Paroki Kumetiran. Ternyata di Paroki Kumetiran ada 5 SMP Negeri, 3 SMA Negeri, dan 1 SMK Negeri. Secara pelan-pelan , kami berusaha mneghubungi guru-guru agama Katolik di sekolah – sekolah tersebut. Ini tidak gampang. Baru di tahun 2008, saat bertugas sebagai asesor ( visitasi akreditasi sekolah), kami mengetahui bahwa salah sseorang prodiakon paroki Kumetiran, ternyata guru agama di sekolah tersebut. Suatu pagi sesudah misa harian di tahun 2010, tim kerja pendidikan mengajak ibu tadi untuk menyapa para murid dengan misa pelajar. Beliau sanggup , dan ingin dibicarakan dengan para guru agama. Maka program kerja Tim Kerja Pendidikan tahun 2011
“ Mengadakan misa pelajar sekolah non Katolik”. Dan setelah mencoba menghubungi para guru Katolik yang kami kenal di sekolah negeri, terutama salah seorang ibu guru di SMP Negeri 12 yang prodiakon , kemudian terjadilah komunikasi yang lebih inten. Pada bulan Juni 2011, ibu guru tadi mengatakan , bahwa pada hari Jum’at pertama bulan Agustus 2011 akan diadakan misa pelajar SMP, SMA, SMK separoki Kumetiran dengan paduan suara dari SMP Negeri 12 dan SMP Negeri 14. Itulah jalan yang kami tempuh mulai tahun 2008, baru terlaksana di tahun 2011.

Tanggal 5 Agustus 2011, setelah megikuti misa Jum’at pertama, hati tim pendidikan berbunga-bunga, karena hal yang diidam-idamkan sejak tahun 2008 akan terlaksana. Pk.11.00 beberapa anggota tim pendidikan ( pendamping SAMBEL) telah hadir. Di pintu gerbang halaman Gereja beberapa anak mengenakan baju batik mulai berdatangan.
Sebuah mobil mazda berwarna maron, masuk halaman gereja membawa beberapa anak yang meneteng gitar dan keybord, kemudian langsung menuju panti koor. Ternyata bapak guru dan anak-anak inilah yang akan mengiringi misa.
Para siswa Katolik di sekolah negeri ternyata berasal dari berbagai Paroki. Hal ini bisa dilihat, banyak anak-anak yang tidak menemukan Gereja Kumetiran, sehingga jadwal Misa tertunda hampir 15 menit. Terima kasih rama Bono, yang telah rela menunggu.
Dalam memimpin misa, rama Bono di dampingi dua prodiakon, Bu Nunuk dari SMP 12 yg tinggal di lingkungan Badran, dan bu Anik guru SMP 7 yang tinggal di lingkungan Ngadiwinatan, dan 4 putra altar. Misa dibuka dengan lagu diringi keybord dan gitar. Paduan suara dari SMP 12 dan 14, beranggotakan lebih kurang 24 anak.

Anak-anak yang hadir dalam misa , sebanyak umat paroki Kumetiran yang ikut misa harian Sabtu pagi. Rama dengan sabar mengajak para siswa untuk keras dalam berusaha, termasuk mengulang doa pembukaan, mengulang Tuhan kasihanilah kami, ajak prefasi, Kudus dan masih ada lagi.

Anak-anak dalam menyahut ajakan rama masih nampak lesu, sehingga rama beberapa kali mengulang ajakannya.
Saya berpikiran, jangan-jangan anak-anak ini sebagian besar jarang mengkuti misa. Hal ini saya tangkap dari gerakan berdiri dan duduk, bukan lamban, tetapi seperti tidak pernah melakukan. Itulah yang menggugah pikiran Tim Kerja Pendidikan dengan pertanyaan:
” Siapakah yang berkenan menyapa mereka?”
Misa selesai pukul 12.50, dan setelah direkap, para siswa Katolik di sekolah negeri sebagai berikut : SMP 3 belum hadir, SMP 7 hadir 45 anak, SMP 11 hadir 32 anak, SMP 12 hadir 28 anak, SMP 14 hader 29 anak, SMA 1 belum hadir, SMA 2 hadir 62 anak, SMA 10 hadir 35 anak, SMK 1 belum hadir, jumlah 231. Itulah sebagian domba-domba Tuhan yang berada di sekolah non Katolik Paroki Kumetiran. Semoga tradisi ini akan langgeng. Optimislah, setiap bulan masih ada Jum’at pertama.
ferd.wakidjan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: