Peringatan Maria di bulan September


8 September Pesta kelahiran Santa Perawan Maria
Hari ini Gereja seluruh dunia merayakan “Pesta kelahiran Santa Perawan Maria”. Pesta ini sesungguhnya menunjukkan betapa Gereja mengasihi dan menghormati Bunda Maria sebagai wanita yang punya peranan besar di dalam karya keselamatan Allah. Sehubungan dengan pesta ini mungkin terlintas dalam benak kita pertanyaan berikut: “Landasan pemikiran apa yang melatarbelakangi pesta ini?” Kita tidak bisa langsung menjawab pertanyaan ini dengan membeberkan peristiwa kelahiran Maria secara lengkap dan obyektif berdasarkan informasi dari dokumen – dokumen terpercaya Gereja seperti Alkitab. Yang mungkin bagi kita ialah melihat peranan dan kedudukan Maria di dalam rencana dan karya keselamatan Allah di dalam sejarah. Tentang hal ini Gereja mengajarkan bahwa Allah – setelah kejatuhan manusia – menjanjikan seorang Penebus bagi umat manusia. Penebus itu adalah AnakNya sendiri. Untuk maksud luhur itu Allah membutuhkan kerjasama manusia; Allah membutuhkan seorang perempuan untuk mengandungkan dan melahirkan AnakNya. Kebeneran iman ini dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada Galatia: “…Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan…” (Gal 4:4). Siapa perempuan itu? Perempuan itu adalah Maria, seorang puteri keturunan Abraham. Dari sini Gereja mengajarkan bahwa Maria telah ditentukan Allah sedari kekal untuk mengandung dan melahirkan AnakNya. Untuk itu ia suci sejak lahirnya dan diperkandungkan tanpa noda dosa asal. Dalam konteks pengakuan iman inilah, Gereja merasa perlu menentukan suatu hari khusus (yaitu: 8 September) untuk merayakan peristiwa kelahiran Maria. Dasar pertimbangan disini – barangkali sangat sederhana – ialah bahwa sebagai manusia, Maria tentu pernah lahir pada waktu dan tempat tertentu, dari orangtua dan suku tertentu. Injil – injil sendiri tidak mengatakan secara jelas bahwa Maria juga adalah keturunan Daud, sebagaimana Yusuf suaminya. Yang penting disini bukanlah ketepatan hari kelahiran itu tetapi ungkapan iman Gereja akan Maria sebagai perempuan yang ditentukan Allah untuk mengandungkan dan melahirkan AnakNya. Seturut sejarah, mulanya pesta ini dirayakan di lingkungan Gereja Timur berdasarkan ilham dari tulisan – tulisan apokrif pada abad ke – 6; pada akhir abad ke – 7, barulah pesta ini diterima dan dirayakan di dalam Gereja Barat Roma.

15 September Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita
Pada bulan September kita memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Dapatkah dijelaskan makna dan asal-mula peringatan ini?
Gelar “Bunda Dukacita” diberikan kepada
Bunda Maria dengan menitikberatkan pada
sengsara dan dukacitanya yang luar biasa
selama sengsara dan wafat Kristus. Menurut
tradisi, sengsara Bunda Maria ini tidak terbatas
hanya pada peristiwa-peristiwa sengsara dan wafat Kristus; melainkan meliputi “tujuh
dukacita” Maria, seperti yang dinubuatkan Nabi
Simeon yang memaklumkannya kepada Maria,
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk
menjatuhkan atau membangkitkan banyak
orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu
pedang akan menembus jiwamu sendiri -,
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak
orang.” (Lukas 2:34-35). Tujuh Dukacita Bunda
Maria meliputi Nubuat Simeon, Pengungsian
Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan Diketemukan di Bait Allah; Bunda
Maria Berjumpa dengan Yesus dalam
Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri
di kaki Salib ketika Yesus Disalibkan; Bunda
Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia
Diturunkan dari Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan. Secara keseluruhan, nubuat
Simeon bahwa sebilah pedang akan menembus
hati Bunda Maria digenapi dalam peristiwa-
peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, Bunda Maria
terkadang dilukiskan dengan hatinya terbuka
dengan tujuh pedang menembusinya. Dan yang terpenting ialah bahwa setiap dukacita
diterima Bunda Maria dengan gagah berani,
dengan penuh kasih, dan dengan penuh
kepercayaan, seperti digemakan dalam Fiat-
nya, “jadilah padaku menurut perkataan
Tuhan,” yang diucapkannya pertama kali dalam peristiwa Kabar Sukacita.
Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita
mulai populer pada abad keduabelas,
meskipun dalam berbagai gelar yang berbeda.
Beberapa tulisan didapati berasal dari abad
kesebelas, teristimewa di kalangan para biarawan Benediktin. Pada abad keempatbelas
dan kelimabelas, peringatan dan devosi ini
telah tersebar luas di kalangan Gereja.
Yang menarik, pada tahun 1482, peringatan ini
secara resmi dimasukkan dalam Misale Romawi
dengan gelar “Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan,” (Our Lady of Compassion)
dengan menekankan besarnya cinta kasih
Bunda Maria yang diperlihatkannya dalam
sengsara bersama Putranya. Kata `compassion’
berasal dari kata Latin `cum’ dan `patior’ yang
artinya “menderita bersama”. Dukacita Bunda Maria melampaui dukacita siapa pun oleh
sebab ia adalah Bunda Yesus, yang bukan
hanya Putranya, melainkan juga Tuhan dan
Juruselamatnya; Bunda Maria sungguh
menderita bersama Putranya. Pada tahun 1727,
Paus Benediktus XIII memasukkan Peringatan Santa Perawan Maria Bunda Berbelas Kasihan
dalam Penanggalan Romawi, yang jatuh pada
hari Jumat sebelum Hari Minggu Palma.
Peringatan ini kemudian ditiadakan dengan
revisi penanggalan yang diterbitkan dalam
Misale Romawi tahun 1969. Pada tahun 1668, peringatan guna
menghormati Tujuh Dukacita Maria ditetapkan
pada hari Minggu setelah tanggal 14
September, yaitu Pesta Salib Suci. Peringatan ini
kemudian disisipkan dalam penanggalan
Romawi pada tahun 1814, dan Paus Pius X menetapkan tanggal yang permanen, yaitu
tanggal 15 September sebagai Peringatan
Tujuh Duka Santa Perawan Maria (yang
sekarang disederhanakan menjadi Peringatan
Santa Perawan Maria Berdukacita). Penekanan
utamanya di sini adalah Bunda Maria yang berdiri dengan setia di kaki salib di mana
Putranya meregang nyawa; seperti dicatat
dalam Injil St. Yohanes, “Ketika Yesus melihat
ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di
sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya:
`Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: `Inilah
ibumu!’” (Yohanes 19:26-27). Konsili Vatikan
Kedua dalam Konstitusi Dogmatis Tentang
Gereja menulis, “…ia sesuai dengan rencana
Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia
menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Putranya yang tunggal.
Dengan hati keibuannya ia menggabungkan
diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih
menyetujui persembahan korban yang
dilahirkannya.” (#58).
St. Bernardus (wafat tahun 1153) menulis, “Sungguh, ya Bunda Maria, sebilah pedang
telah menembus hatimu…. Ia wafat secara
jasmani oleh karena kasih yang jauh lebih
besar daripada yang dapat dipahami manusia.
Bunda-Nya wafat secara rohani oleh karena
kasih seperti yang tak dapat dibandingkan selain dengan kasih-Nya.” (De duodecim
praerogatativs BVM).
Dengan menekankan belas kasihan Bunda
Maria, Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II,
mengingatkan umat beriman, “Bunda Maria
yang Tersuci senantiasa menjadi penghibur yang penuh kasih bagi mereka yang
mengalami berbagai penderitaan, baik fisik
maupun moral, yang menyengsarakan serta
menyiksa umat manusia. Ia memahami segala
sengsara dan derita kita, sebab ia sendiri juga
menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. ‘Dan jiwa mereka pula akan ditembusi sebilah
pedang.’ Bunda Maria adalah Bunda Rohani
kita, dan seorang ibunda senantiasa memahami
anak-anaknya serta menghibur dalam
penderitaan mereka. Dengan demikian, Bunda
Maria mengemban suatu misi istimewa untuk mencintai kita, misi yang diterimanya dari
Yesus yang tergantung di Salib, untuk
mencintai kita selalu dan senantiasa, dan untuk
menyelamatkan kita! Lebih dari segalanya,
Bunda Maria menghibur kita dengan menunjuk
pada Dia Yang Tersalib dan Firdaus!” (1980). Oleh sebab itu, sementara kita menghormati
Bunda Maria, Bunda Dukacita, kita juga
menghormatinya sebagai murid yang setia dan
teladan kaum beriman. Marilah kita berdoa
seperti yang didaraskan dalam doa
pembukaan Misa merayakan peringatan ini: “Bapa, sementara PutraMu ditinggikan di atas
salib, Bunda-Nya Maria berdiri di bawah kaki
salib-Nya, menanggung sengsara bersama-Nya.
Semoga Gereja-Mu dipersatukan dengan Kristus
dalam Sengsara dan Wafat-Nya, sehingga
beroleh bagian dalam kebangkitan-Nya menuju hidup baru.” Dengan meneladani Bunda
Maria, semoga kita pun dapat mempersatukan
segala penderitaan kita dengan sengsara
Kristus, serta menghadapinya dengan gagah
berani, penuh kasih dan kepercayaan. sumber : “Straight Answers: Mother of Sorrows” by
Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald,
Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All
rights reserved; http://www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan
artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA:
http://www.indocell.net/y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: