“Tunjukan Merahmu, Buktikan Putihmu ! (100% Indonesia, 100% Katolik)” Temu Raya OMK Keuskupan Agung Semarang


Ada yang berbeda dihari Minggu (21/8) di taman hijau penerbit percetakan Kanisius Deresan. Terlihat ratusan orang muda katolik dari penjuru keuskupan Agung Semarang hadir dalam acara temu raya orang muda katolik (OMK) yang diselenggarakan tahun ini. Berbagai komunitas orang muda katolik baik di tingkat paroki, orang muda katolik yang mewakili sekolah, universitas, kelompok atau organisasi yang lainnya turut hadir dan terlibat dalam acara ini. Sebuah burung garuda besar yang dipajang di depan pintu masuk, menandakan bahwa Pancasila yang merupakan salah satu 4 pilar pokok kehidupan bangsa yang patut untuk dipertahankan. Untuk dapat memasuki area temu raya yang dinamakan kawasan kemerdekaan ini para peserta harus melewati semacam labirin dengan dinding warna merah putih di kanan kirinya. Labirin ini mengingatkan kita bahwa untuk merebut kemerdekaan itu bukanlah hal yang tak mudah, butuh perjuangan dan jalan yang berliku sampai akhirnya kita menjadi negara yang merdeka. Setelah melewati jalan yang berliku, nampaklah sebuah tempat hijau yang dinamakan kawasan kemerdekaan. Sebuah lokasi temu raya dengan dilatar belakangi miniatur wilayah Indonesia raya, beserta dengan gambar para pahlawan yang telah gugur untuk mempertahankan kemerdekaan. Tak lupa sebuah panggung utama yang merupakan pusat kita untuk menutup rangkaian temu raya dengan Ekarisiti.

Tepat pukul 08.30 acara temu raya dibuka dengan tarian ala orang muda yang menggambarkan keceriaan suasana yang akan terjadi dalam kegiatan hari ini. Setelah dibuka dengan kemeriahan acara dilanjutkan dengan upacara bendera yang dipimpin oleh Rm.FX.Endra Wijayanta,Pr. Dengan dibantu paduan suara dari SMA Santa Maria Yogyakarta, petugas lainnya seperti dari Menwa Universitas Sanata Dharma dan Pramuka Katolik Yogyakarta ikut mendukung sehingga upacara dapat berjalan dengan penuh khidmat. Acara pembukaan temu raya di tandai dengan pelepasan burung, yang melambangkan kemerdekaan.

Tema yang diangkat pada temu raya ini adalah “Tunjukkan Merahmu, Buktikan Putihmu ! 100% Indonesia, 100%Katolik.” Dijumpai sesudah memimpin upacara romo Endra menjelaskan tentang tema yang diangkat. Disinyalir kaum muda mulai luntur semangat dan rasa cinta terhadap tanah air, disisi lain iman kaum muda dalam rangka militansi yang sering kali mudah luluh oleh berbagai macam godaan. Kedua keprihatinan ini yang coba diangkat oleh komisi kepemudaan Keuskupan Agung Semarang dalam temu raya OMK tahun ini. Kegiatan selama setengah hari ini akan berkaitan dengan kedua hal tersebut. perlomban ala 17-an yang ingin membuktikan kita orang muda yang masih peduli dengan kemerdekaan bangsa ini, serta sharring iman mencoba berbagi, saling menguatkan iman satu sama lain tentang permasalahan yang terjadi di tempat masing-masing. Kegiatan semacam ini tentu jauh dari ideal tetapi sebagai ceremony untuk mencoba bangkit bersama, dalam melakukan gerakan yang berkelanjutan. Ada empat harapan yang ingin dicapai dalam temu raya OMK ini. 1) kaum muda masih tetap mempunyai semangat nasionalisme untuk negara dan tanah air. 2) kaum muda bisa menambah jejaring. 3). Kaum muda dapat saling memperkaya iman satu sama lain. 4) menjadi gerakan bersama yang dapat di break down lagi untuk menjadi gerakan yang nyata.

Setelah seluruh kelompok terbentuk maka diadakanlah lima perlomban yaitu estafet makan krupuk, estafet kacang, estafet koin, estafet air dan lomba busana dari kertas koran. Semua perlombaan berjalan seru dan menarik seperti yang diungkapkan Anton wakil omk dari paroki Kudus. Kegiatan tambah meriah dengan diadakan fashion show dari para peserta lomba busana koran. Satu persatu peserta berjalan lenggak lenggok bak model terkenal. Berbagai macam dance dari teman-teman SMA Stella Duce 2 dan dari SMA Santa Maria, serta drum blek dari OMK Kristus Raja Semesta Salatiga turut serta menyemarakan acara temu raya.

Setelah istirahat makan siang, para peserta dengan dibantu para frater dan suster kembali masuk dalam kelompok. Kali ini dinamika kelompok yang diangkat tentang sharring iman, permasalahan OMK yang terjadi di tiap paroki, serta harapan dan apa yang akan dilakukan sebagai orang muda katolik. Dinamika yang terjadi dari tiap kelompok berbeda satu sama lain, ada kelompok yang didahului dengan nyanyi dan tarian, ada yang dengan permainan, semuanya tampak guyub satu dengan yang lain. Banyak kesan dan pesan dari para peserta Temu Raya seperti yang diungkapkan Rosa, Cintia, Ovi dari OMK Solo “menyenangkan, sip..harapannya besok diadakan lagi acara semacam ini.” Kesan dari Debora lumayan, bisa kenal dengan banyak teman dari luar kota. Riska dari Stece kesannya seru.

Puncak dari temu raya OMK ini ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Rm.Pius Riana Prapdi, Pr bersama para konselebran yang lainnya seperti Romo Bimo dari paroki Kudus. Ada hal di luar skenario pada perayaan penutupan ini, ternyata tampak bapak Uskup Mgr.Johanes Pujasumarta, Pr menyempatkan hadir di tengah kesibukannya kunjungan pastoral di paroki-paroki. Dan beliaupun memberikan sepatah dua patah kata. Dari kunjungan pastoral yang barusan dilakukan ternyata ada keprihatinan dari paroki-paroki dimana kaum mudanya sesudah lulus SMA, lalu pergi ke luar kota. Gereja menjadi kehilangan orang muda, dan sebagai tantangan untuk kita bagaimana menjadi gereja yang tetap muda dan membawa keceriaan. Para pahlawan seperti Agustinus Adisutjipto dan Ignatius Slamet Rijadi merupakan sosok kaum muda yang rela berdarah-darah sampai gugur demi membela tanah air dan bangsa. Begitu juga dinamika dalam diri orang muda dari Nazareth yang bernama Yesus Kristus. Ia berdarah-darah dan mati muda untuk menyelamatkan seluruh bangsa dari kehancuran agar manusia menjadi anak kemerdekaan. Pada zaman kita sekarang ini orang muda katolikpun dipanggil untuk meneladaninya dalam menghadapi segala tantangan yang menghadang. Romo Riana juga mengingatkan kita sebagai orang muda adalah inspirasi gereja. Kita adalah masa depan masyarakat dan gereja. Dan kita sebagai kaum muda dipanggil untuk menjadi saksi peneguhan iman. Semoga kegiatan ini bukan dilihat hanya peristiwa tetapi sebuah gerakan yang terus menerus, militan dan mampu bertahan. Diakhir perayaan ekaristi ini dibacakan ikrar Orang Muda Katolik yang hendak menjadi garam dan terang di tengah masyarakat, menjadi lilin penerang di dalam kegelapan, menjadi jembatan bagi sesama, dan dapat berguna bagi gereja dan negara. Berjanji mengobarkan semangat kasih dan cinta universal. Berbuat dan berkata jujur dalam tingkah laku perbuatan. Sebuah bentangan kain putih panjang yang berisi ungkapan semangat dari para peserta mengiringi kepulangan mereka ke tempat asal, untuk membagikan apa yang telah mereka terima. Selamat berjuang mewujudkan 100% Indonesia dan 100% Katolik! Hidup kaum muda.
-siGal-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: