Sentuhan TanganTuhan yang menyelamatkan


Kesaksian Umat

Sentuhan Tangan Tuhan yang Menyelamatkan

Kala itu tahun 1987, ketika saya menerima panggilan menjadi ketua lingkungan Notoyudan. Wwaktu itu ketua mudikanya dijabat oleh sdr Laurensius. Lingkungan Notoyudan waktu itu diperkenankan menjadi bagian lahan yang agak subur bagi calon baptis.
Dalam perjalanan waktu saya menangkap bahwa kondisi yang demikian itu ternyata berkat kedekatan kami, umat lingkungan dengan Bunda Maria. Hal ini terbukti dengan banyak dan seringnya Doa Novena Tri Sembah Bekti yang dilaksanakan oleh kelompok-kelompok umat di lingkungan.
Suatu malam, ketika sedang berlangsung bimbingan calon baptis di SD Kanisius Notoyudan, datanglah seorang ibu yang beragama Kristen. Beliau memohon pertolongan doa, untuk suaminya yang sedang sakit. Suaminya itu menderita sakit tenggorokan sudah bertahun-tahun, tidak kunjung sembuh. Padahal menurut penuturan ibu tadi, suaminya telah berulang kali dibawa ke dokter dan orang-orang yang dinilai mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dana yang dikeluarkan untuk membiayainya pun menurut ukurannya sudah sangat banyak. Pada tahun itu 1987 sudah lebih dari Rp 4.500.000,00.
Permintaan ibu tadi kemudian saya bicarakan dengan pengurus inti yang kemudian disepakati untuk segera menindaklanjuti dengan berdoa bersama Novena Tri Sembah Bekti. Kebetulan pada waktu itu di lingkungan kami sudah ada semacam buku panduan, yaitu Reroncening Sembahyangan Novena Tri Sembah Bekti. Disepakati untuk mengawali doa bersama itu dua hari sesudahnya.
Pada hari pertama dan kedua Novena, bapak yang sedang sakit masih berbaring di tempat tidurnya. Pada hari ketiga novena, ia sudah mulai mengikuti doa bersama, namun masih duduk di tempat tidurnya. Selanjutnya pada hari keempat novena, ia mulai mengikuti doa bersama, duduk bersama-sama dengan kami semua. Bapak itu ikut berdoa sambil duduk bersama kami hingga doa Novena Tri Sembah Bekti itu berakhir pada hari kesembilan. Saya tidak tahu persis, pada hari ke berapa ia merasa sembuh total. Yang jelas, setelah itu, ia tidak merasakan kambuh lagi sakitnya.
Kesembuhan dari penyakitnya itu ternyata menjadi titik awal beliau terpanggil menjadi pengikut Yesus Kristus. Terbukti setelah itu, ia mengikuti bimbingan calon baptis di lingkungan kami dengan baik dan tekun. Hingga akhirnya ia menerima Sakramen Baptis di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran. “Sayang” setelah baptis, ia tidak berkenan hidup berlama-lama di dunia ini. Beberapa tahun setelah dibaptis ia dipanggil Bapa di surga. Peristiwa itu mengingatkan saya akan sabda Allah dalam kitab Kebijaksanaan “…kehormatan seseorang tidak diukur menurut panjangnya usia dan tidak dihitung menurut jumlah tahun. Sebaliknya pengertianlah yang bernilai sebagai uban, dan hidup yang tak bercela bernilai sebagai usia lanjut.”(Keb 4:8-9)
Kisah nyata singkat tentang pengalaman akan sentuhan kasih Tuhan terhadap seorang bapak ini semoga meneguhkan iman kita.
-D.Djumadi-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: