PENTEKOSTA DAN TUGAS PERUTUSAN


PENTEKOSTA DAN TUGAS PERUTUSAN
Pentekosta adalah salah satu pesta orang Yahudi untuk mengenang turunnya sepuluh Perintah Allah. Pesta itu sendiri berasal dari pesta setempat yaitu pesta syukur setelah panen. Oleh Gereja perdana Penekosta dimaknai lain yaitu turunnya Roh Kudus atas para rasul yang mendorong mereka sepakat untuk mewartakan khabar gembira keselamatan Allah yang dibawa oleh Yesus Kristus.
Proses pertumbuhan Gereja awal itu dimulai dari kehadiran Yesus di Nasaret. Mereka sangat bergairah karena menyaksikan karya agung Allah di sekitar mereka. Setelah Yesus wafat, banyak orang di anatara mereka mulai mengundurkan diri seperti yang dialami dalam Yoh 6:60-66. Mereka tercerai berai, ada yang karena kecewa angan-angannya untuk mengangkat Yesus sebagai raja tidak terpenuhi, khayalan mereka untuk mengembalikan kejayaan Israel seperti jaman Daud tidak terpenuhi, ada yang takut dengan orang-orang Yahudi, sebagian lagi sekedar tidak bisa mengalami mukjizat yang hebat-hebat itu.
Peristiwa kebangkitan Yesus itu membawa kebingungan di antara mereka seperti dilaporkan dua orang murid dari Emaus. Untunglah bahwa orang-orang yang percaya kepada kebangkitan itu akhirnya tetap berkumpul untuk berdoa dan memecahkan roti sebagai kenangan akan Yesus. Anehnya persekutuan itu makin kuat, akrab dan dalam suasana gembira seperti yang bisa kita baca pada awal-awal Kisah Para Rasul.
Bersama ibu Maria para Rasul berkumpul dengan dan pelan-pelan menemukan bentuk persekutuan itu. Semula mereka sekedar greneng-greneng sebatas antar mereka sendiri. Lalu terjadilah peristiwa yang menggemparkan pada perayaan Pentekosta. Ketika mereka sedang berkumpul mereka kepenuhan Roh Kudus sehingga mereka amat bergairah, tidak lagi takut untuk mewartakan Yesus sebagai penyelamat. Lihat saja betapa beraninya Petrus berkhotbah dalam Kis 2: 14 – 40. Ancaman pembunuhan seperti yang dialami Yesus sendiri tidak menyurutkan nyalinya. Seperti ombak lautan yang sedang pasang hati di dada mereka bergemuruh, bergelora, tidak sekedar greneng-greneng, glenak-glenik antar mereka, tidak sabar dan tak tertahankan lagi, Yesus sebagai juru selamat harus didengar, dimengerti oleh orang lain di luar kelompok.
Roh Kudus tidak berhenti mendampingi mereka dalam menemukan jati diri kelompk ini. Semula kelompok ini masih yakin bahwa mereka adalah salah satu aliran saja dari agama Yahudi. Roh Kudus menuntun mereka bahwa memang mereka berbeda dan harus memisahkan diri dari kelompok Yahudi sampai suatu ketika di Antiokia mereka mendapat sebutan orang-orang kristen.
Begitulah pola sejarah Gereja di mana-mana. Gereja paroki Hati St. Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran ini tidak jauh dari proses pertumbuhan semacam itu yang kemudian menjadi besar karena sering berkumpul, berdoa dan memecahkan roti. Di dalam Gereja kita ini ada kelompok-kelompok basis teritorial: Blok, Lingkungan, Wilayah, ada kelompok Basis Kategorial: Legio Mariae, Kharismatik, Lansia, PIA, PA, OMK dan lain-lain, dan tak ketinggalan kelompok basis keluarga (kelau lebih besar disebut trah): keluarga dan komunitas masing-masing. Gereja perdana mempunyai pola: berkumpul, berdoa dan memecahkan roti, demikian pula pola kelompok-kelompok basis ini. Jangan lupa paroki kita dulu juga sekedar kelompok kecil saja.
Dengan berkumpul terjadi kesempatan untuk greneng-greneng, glenak-glenik tentang ini itu. Jika perkumpulan itu dalam nama Yesus maka Yesus sendiri hadir di dalamnya (Mat 18:20). Bagaimana perkumpulan mengatas namakan Yesus? Ya dengan berdoa. Lalu Yesus hadir dalam Roh Kudus yang secara terus-menerus membimbing kelompok-kelompok basis kita. Itulah sebabnya dalam glenak-glenik itu kerapkali muncul ide-ide, gagasan, inspirasi baru untuk pengembangan. Mengulang proses terjadinya Gereja, kalau kelompok-kelompok itu mau bertumbuh silakan berkumpul, bertemu secara rutine. Kumpul atau pertemuan rutine adalah nafas kelompok. Jika pertemuannya tidak rutine nafas kelompok itu tersengal-sengal. Pertemuan itu adalah pertemuan dalam doa sehingga setiap hati tidak hanya mendengarkan orang lain bicara tetapi secara bersama mendengarkan bisikan Roh Kudus. Akan lebih bagus jika pertemuan itu disertai pemecahan roti (kalau dalam keluarga bisa makan bersama) yaitu ekaristi untuk mengenang wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Kelompok-kelompok basis yang ingin tidak sekedar exist tetapi bertumbuh disarankan untuk memiliki agenda pertemuan rutine. Dan pertemuan itu diwarnai dengan doa untuk menegaskan bahwa pertemuan itu atas nama Tuhan Yesus. Di situlah Roh Kudus akan mengobarkan semangat dan mengutus untuk mengembangkan kelompok-kelompok basis kita.
-Rm.Bono,Pr-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: