Pertemuan Warasemedi se Kevikepan DIY


Pertemuan Warasemedi se Kevikepan DIY

Hari Jumat tanggal 29 April 2011 pagi, di depan panti bawah dipajang macam-macam tanaman di samping meja penerima tamu. Ternyata ada pertemuan warasemedi yang rutin diadakan 3 bulan sekali. Dan kali ini, Paroki Kumetiran menjadi tuan rumahnya. Acara ini dimulai pada pukul 10.10 WIB bertempat di panti atas, dihadiri sekitar seratus ibu dari perwakilan paroki se kevikepan DIY.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh Romo F.Harto Subono sebagai pastor paroki, Bapak Wahyu sebagai wakil Dewan Paroki dan Bapak Subartha sebagai Ketua bidang Paguyuban.
Diawali dengan doa pembuka oleh ibu Slamet, dilanjutkan dengan menyanyikan hymne & mars warasemedi. Renungan diberikan oleh ibu Anton dari Kisah Para Rasul ~Saulus bertobat~.
Inti permenungan setelah sharing dengan beberapa ibu, adalah:
• Tuhan memanggil kita dengan berbagai cara, karena kita dicintai dan dipilih oleh Kristus.
• Konsekwensinya sebagai orang Katolik / pengikut Kristus, adalah siap diutus, antara lain untuk melaksanakan cinta kasih, meluaskan kerajaan Allah dan mengikut jejak Kristus.
Dilanjutkan doa umat, dan sambutan oleh Romo Bono.

Dalam sambutannya, Romo mengajak ibu-ibu warasemedi menyanyi lagunya Koesplus “bujangan”.
Lagu ini mencerminkan cara pandang yang positif dari sebuah keadaan. Hidup sendiri menurut romo banak enaknya kok kalau dijalani dengan enjoy. Romo juga menjelaskan tentang takdir dan nasib dengan jenaka. Dicontohkan bahwa pada saat ibu-ibu ditinggal mati suami, itu Takdir : kenyataan yang mau/tidak mau harus diterima. Walaupun yang melayat banyak terus misa requemnya dengan banyak Romo juga tidak bisa menghidupkan yang sudah mati to??? tanya romo, disambut geer oleh ibu-ibu. Betul juga yaaa……… Sedangkan nasib : kenyataan atau keadaan bagaimana kita harus mensikapinya, dan keadaan itu bisa dirancang sendiri. Dicontohkan lagi oleh romo, misal kita kecelakaan, kaki jadi tinggal satu, apakah kita hanya tinggal begitu saja merenungi nasib. Atau kita tetap semangat menjalani hidup, walaupun hanya punya satu kaki, dengan melihat situasi ini dari sisi positif ternyata ada orang lain yang lebih menderita dari saya. “Jadi saya ini lebih beruntung………” kata Romo Bono lagi. Benar juga lagi yaaa………. Terima kasih atas suportnya romo.!!

Acara dilanjutkan dengan senam tangan, supaya tidak lekas buyuten ( katanya) karena sebagian besar yang hadir memang ibu-ibu sepuh. Lalu disampaikan informasi-informasi oleh ibu ketua, yaitu Ibu Sisilia Netiyanto dari paroki Pugeran, antara lain rencana kunjungan ke panti asuhan ganjuran dan lomba kor. Pertemuan diakhiri dengan makan siang bersama pada pukul satu. (Tyas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: