PANTANG DAN PUASA ITU SEHAT


PANTANG DAN PUASA ITU SEHAT
Seorang teman mengeluh bahwa dirinya bosan menjalani hidup. “Hidup koq Cuma begini-begini saja”. Secara ekonomis dia mapan, tutubhnya nampak sehat, penampilannya ceria, rajin berdoa juga. Lalu apa yang sebenarnya dia inginkan? Di balik ungkapan itu ada suatu keinginan untuk memutuskan rantai kebiasaan hidup sehari-hari dan menginginkan kemajuan yang berarti dalam hidupnya. Semua orang normal menginginkan kemajuan dalam hidup. Kemajuan itu meliputi segala bidang kehidupan ya jasmani – ya rohani; ya lahir – ya batin, kemajuan menyeluruh – istilah kerennya kemajuan wholistic Tetapi tidak semua orang tahu bagaimana caranya dan kapan memulainya. Pantang dan Puasa adalah salah satu cara untuk menolong kita.
Katekismus Katolik mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh – jiwa – roh. Yang dimaksudkan tubuh sudah jelas yaitu kepala, tangan, kaki, perut dan lain-lain. Yang termasuk jiwa adalah emosi-emosi, kehendak, niat-niat, gerak batin. Dan roh adalah bagian dari diri manusia yang berkecendrungan dan berkeinginan untuk berhubungan dengan Tuhan. Pantang dan puasa itu sehat dan bagi tubuh, jiwa dan roh.
Pantang dan puasa itu sehat bagi tubuh. Untuk mereka yang kelebihan berat badan sudah jelas, pantang dan puasa bermanfaat untuk menurunkan berat badan. Bagus khan? Untuk mereka yang tidak kegemukan pantang dan puasa menjadi kesempatan untuk mendisiplinkan diri, mengendalikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu untuk tubuh. Misal, mereka yang terbias jajan makanan ringan dapat menguji diri apakah mereka bisa tetap sehat tanpa jajan makanan ringan. Bahkan untuk hal-hal yang tidak perlu seperti rokok, minuman keras, dugema, justru membuat menyehatkan kalau tidak dilakukan. Lha kalau itu semua sudah dilakukan apakah pantang dan puasa masih menyehatkan? Masih tetap menyehatkan karena kesempatan itu dapat untuk membuktikan bahwa tanpa memakan dan meminum seperti biasa dia masih tetap tahan.
Pantang dan puasa itu sehat bagi jiwa. Menurut Eric Berne jiwa manusia memiliki 3 bagian yaitu bagian orangtu – bagian dewasa – dan bagian kenak-kanak. Bagian orang tua bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku. Maka bagian ini suka menasihati, memerintah, memarahi kalau terjadi kesalahan. Bagaian kanak-kanak bertindak atas dasar rasa senang dan tidak senang. Bagian ini akan mencari dan mencari terus kesenangan-kesenangan sambil menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Sedangkan bagian dewasa ini bertindak atas dapat pertimbangan perlu atau tidak perlu, berguna atau tidak berguna. Nah ketiga bagian ini seringkali berebut pengaruh. Manakah yang paling berpengaruh? Tak seorangpun mengalami yang sama. Terkadang bagian orang tua berpengaruh kuat sehingga bagian kanak-kanak terpaksa diam, takut-takut dan sedih. Lain kali ketika bagian kanak-kanak menang orang bisa bertindak sak karepe dhewe, nggugu senenge dhewe, mbuh ra weruh. Kita semua tahu bahwa anak yang dimanjakan, yang boleh bertindak seenakknya sendiri, akan menjadi anak yang tidak mandiri dan tidak tahu terima kasih. Nah orang normal yang ingin maju tentu akan memilih dan memenangkan bagian dewasa. Pantang dan puasa menjadi pelatihan bagus untuk memperkuat bagian dewasa dan mengendalikan bagian orangtua agar tidak terlalu murah main nasihat dan serba larang sana, larang sini dan mengendalikan bagian kanak-kanak agar mampu menggunakan pikiran, tidak asal senang dilakukan, asal tidak sedang tidak dilakukan. Kiranya dengan pantang dan puasa orang bisa memilih tindakan yang memang perlu dan berguna, sesuai dengan aturan yang berlaku dan dilakukan dengan senang hati.
Pantang dan puasa itu sehat bagi roh. Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (ARDAS) menyebut diri sebagai murid-murid Kristus. Sebelum berkarya Yesus melakukan puasa selama empat puluh hari tidak makan dan tidak minum. Ysus guru – kita murid. Pengertian guru di sini tidak sama dengan guru SMP atau dosen Perguruan Tinggi. Guru di sini berarti lebih mirip dengan kyai dan santri-santrinya. Mereka hidup bersama, berdoa, bekerja, belajar bersama dalam ikatan kasih. Dalan halini kita sehati dengan guru kita yaitu Yesus Kristus. Seorang murid yang mencintai gurunya tentu mengidolakan gurunya. Seorang murid yang mengidolakan gurunya ingin sedekat dan semirip mungkin dengan gurunya. Kemiripan itu oleh St. Paulus dikatakan sampai sepikiran dan seperasaan dengan Kristus Yesus (Flp 2:5). Selanjutnya Paulus menggambarkan usaha kemajuan rohaninya seperti seorang atlit lari (bdk Flp 3: 14) yang terus menerus melatih diri sambil mengarahkan diri pada kemajuan yang ingin diperoleh.
Lha terus kalau sudah semakin mirip dengan sang idola ada apa lagi? Ya ada. Pertama happy dong. Happy wholistic, gitu lho. Dan masih ada lain lagi. Tersedia bonus lho, itu lho yang dinamakan rahmat. Pokoknya tersedia rahmat pada waktu kita memerlukannya. Asyik khan.

Wah tapi koq kayaknya pantang dan puasa cuma cari untung sendiri ya? Ya gaklah. Kalau kita terbiasa berelasi baik dan sehat dengan diri sendiri, relasi kita dengan sesamapun akan sehat dan baik koq. Kurang percaya, itu sebabnya kita diajak menyisisihkan apa yang masih kita butuhkan sendiri untuk orang lain dalam pengumpulan dana Aksi Puasa Pembangunan (APP).
Kapan mulainya? Ya saat inilah saat yang tepat di mana semua orang katolik serentak menjalani masa pantang dan puasa. Mari kita berpantang dan berpuasa agar hidup kita lebih sehat. Inilah saat yang tepat untuk mendidik diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: