PUASA DAN PANTANG


Obrolan Kompak Maret 2011
PUASA DAN PANTANG
Hari Minggu (06/03) sebelum Rabu Abu, peryaan ekaristi tanpa ada homily. Homilinya diganti dengan pembacaan “Surat Gembala Prapaskah” disertai peraturan puasa dan pantang, dalam obrolan kali ini selanjutnya disingkat dengan istilah SGP.
Hal ini juga menjadi bahan perbincangan empat sekawan dalam obrolannya.
“Pet, setiap hari Minggu sebelum Rabu Abu kok selalu dibacakan SGP dan peraturan pantang dan puasa, ya?”
“Bener, Ul.” Petrus Noyo menjawab pertanyaan Paulus Waru dan selanjtnya menerangkan perkara itu, “Sejak ada kegiatan APP (Aksi Puasa Pembangunan) sekitar tahun tujuh puluhan, pada Misa hari Minggu sebelum Rabu Abu, di setiap Keuskupan mengeluarkan SGP disertai dengan pembacaan aturan pantang dan puasa. Tahun ini tema APP secara nasional yaitu KESEJATIAN HIDUP DALAM PERWUJUDAN DIRI. Mengacu tema nasional tersebut Keuskupan Agung Semarang mengangkat tema INILAH ORANG KATOLIK SEJATI. Adapun judul SGP tahun ini ORANG KATOLIK SEJATI MELAKSANAKAN KEHENDAK BAPA. Adapun Peraturan Pantang dan Puasa belum ada perubahan alias tetap.”
Mendengar ungkapan Petrus Noyo, Magdalena Dhadhap nyeletuk, “Kok ndadak ada puasa dan pantang segala, untua apa, to?’
“Wu….cah ra dhongan.” Thomas Suto menyaut ungkapan Magda, “Ya sejak dulu memang begitu. Tanya kok gak mutu.”
“Sama saja, Thom, Kalau jawabanmu cuma begitu juga tidak mutu.”
Thomas Suto tetep saja membenarkan ucapannya, “Habis, Magda gak mutu, sih. Sudah tiap tahun dijelaskan dan dijalani kok masih nanyak. Puasa dan pantang itu wajib dilaksanakan di setiap masa Pra Paskah.”
Melihat gelagat yang kurang baik, Petrus Noyo berusaha menengahi pembicaraan Thomas dan Magda, “Bagi kita, Paskah itu merupakan misteri iman yang cukup agung. Melalui sengsara, wafat dan kebangkitan, Kristus melaksanakan kehendak Bapa untuk menebus dosa-dosa kita. Maka, agar kita pantas menyambut kemenangan jaya Kristus Tuhan kita pada Hari Raya Paskah, kita diajak mempersiapkannya dengan berpantang, berpuasa dan bermati raga. Kecuali itu, selama masa Pra Paskah ini atau sering disebut sebagai masa retret agung bagi umat Katolik. Ada beberapa kegiatan yang selalu kita laksanakan. Diantaranya pertemuan sarasehan APP, pengakuan dosa, jalan salib, pengumpulan dana APP dan masih banyak kegiatan lain yang kesemuanya mengarahkan agar iman kita semakin kuat dan mendalam.”
“Meski tiap tahun dibacakan, tetep saja saya lupa, je. Inti peraturan Puasa dan Pantang itu gimana sih, Pet?”
“Puasa wajib dilaksanakan bagi umat Katolik yang berusia 18 hingga 60 tahun. Adapun pantang wajib dilaksanakan oleh umat yang berusia 14 tahun ke atas. Masa Pra Paskah yang hitungannya 40 hari, hanya melakukan 2 kali untuk berpuasa yaitu hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Sedangkan pantang dilakukan pada hari Rabu Abu dan setiap Jumat sampai dengan peristiwa Jumat Agung.”
Agak aneh Thomas nyeletuk, “Menurutku lebih enak puasa lho, bila dibandingkan dengan pantang.”
“Maksudmu?”
“Lha iya, to. Pantang harus mengurangi hal-hal yang kita sukai. Sedangkan puasa ditentukan makan kenyang sekali dalam sehari. Yang tidak kenyang kan boleh berkali-kali. Juga bisa ditafsirkan sebagai makan kenyang sekali, yang diartikan sebagai makan kenyang banget. Ha rak malah enak puasa, to.”
Hampir bersamaan mereka berkomentar, “Wu…., dhasar pelahap.”
Thomas pun kemudian meralat argumentasinya, “Jangan tegang-tegang. Aku tadi cuma guyon, kok. Ngomong-ngomong soal APP, katanya kotaknya dikumpulkan dan dihitung di lingkungannya masing-masing, baru kemudian disetor ke gereja. Bener, pa?”
“Bener, Thom.” Petrus Noyo yang kebetulan hadir dalam pendalaman materi APP menenrangkan, “Tahun ini pengumpulan kotak APP diubah. Tidak dibawa pada misa Jumat Agung atau Malam Paskah, tetapi disarankan dikumpulkan dan dihitung pada pertemuan terakhir dalam sarasehan di masing-masing lingkungan. Dengan tata cara baru ini diharapkan kotak APP yang isi dan kembali ke panitia APP persentasenya semakin banyak.”
“Boleh tidak, kita ambil sedikit untuk kas lingkungan?”
“Sebaiknya jangan, Thom. Panitia APP ketika membagi kotak kemarin menyertakan juga berita acara jumlah kotak terbagi, jumlah kotak kembali dan jumlah uang. Juga dalam berita acara itu ada tanda tangan saksi, yaitu salah satu umat yang hadir dalam penghitungan. Jadi sebaiknya disetor utuh saja.”
“Lalu nyetornya kapan dan dimana, Pet?”
“Diserahkan di gereja (Panitia APP) pada hari Minggu Palma (17/04) atau hari Raya Paskah (24/04). Udah-udah, nanyak terus. Makanya kalau ada pertemuan itu datang, jadi gak nanyak-nanyak terus begini.”*** (YS)

Sidomulyo, 16 Maret 2011 pk. 03.37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: