“SING PENTING ATINE SENENG DHISIK”


Profil Rm.F.Harto Subono

“SING PENTING ATINE SENENG DHISIK”
Umat acap memanggilnya Romo Bono, lengkapnya Florentinus Harto Subono. Katanya asli dari Turki (Turunan Gunung Kidul), tepatnya Karangmojo, kini masuk paroki Kelor. Putra pasangan Paulus Sudarto dan Yuliana Sayuti ini lahir 3 Agustus 1955. Tanggal ultahnya persis dengan tanggal ultah koor GC.
Mengenyam pendidikan dasar di dusunnya SD N Karangmojo terus ke SMP Sanjaya Karangmojo, dan berlanjut ke Seminari Menengah Mertoyudan tahun 1971. Seminari Tinggi St.Paulus Kentungan dimasukinya tahun 1975. Tahbisan imamat diterimanya dari Kardinal Darmoyuwono, 25 Januari 1982 dengan mengambil motto, “Tuhan yang memulai, Tuhan yang menyelesaikan”(Cf.Filipi 1:6). Rekan seangkatannya ialah Rm.FM Martana Pr (sudah meninggal), Rm.Noto Wardoyo, Rm. Setyo Gunawan (Jakarta), Rm.Mardi Kartono SJ, Rm.Cipto Suwarno SJ.
Sewaktu kelas II SMP Bono kecil dipermandikan. “Yang masuk mula-mula simbah. Simbah itu dulunya haji. Beliau pengusaha gula dan cukup kaya. Anaknya dua, bapak saya masuk Katolik belakangan. Dulu bapaknya YB.Wijayanjono (Tinggal di Gedong Kiwo) yang masuk katolik,” tutur Rm.Bono. Ketika jadi misdinar, romo Bono sering diajak Rm.Dibyowahyono ke kapel Ponjong, kapel Bolo untuk melayani.
Rm.Bono pernah bertugas di Ignatius Magelang, paroki Sedayu, dan paroki Jetis (1989-1992). Tahun 1992-1995 bertugas di komisi Kepemudaan KAS, mendampingi kaum muda dalam pembinaan, pengkaderan, dan karya kepemudaan. Tahun itu pula Rm.Bono merangkap sebagai wakil rektor seminari untuk tahun rohani di Jangli. Mulai 1 Desember 2010 Rm.Bono resmi jadi gembala di Kumetiran, yang sebelumnya menjabat Rektor Seminari St.Paulus Kentungan.
Tahun 1995-1997 Rm.Bono studi Formatio di Amerika, baik di Washington State (tahun pertama) dan Saint Louise (tahun kedua). Studi Formatio ini penting dalam rangka penyeleksian calon-calon romo, mulai dari penelusuran masa kecilnya, motivasi otentik yang ditemukan, latihan rohani, konsultasi.
Rm.Bono yang selalu tampil enerjik ini berprinsip bahwa nyambut gawe utawa nindakake apa wae sing penting atine seneng dhisik. Kalau hati seneng dulu, maka akan mudah selanjutnya. Terhadap orang lain yang kadang tidak menyenangkan, maka kita bisa mencari sisi yang baik atau menguntungkan dari orang itu. Kita akhirnya akan bisa masuk berkomunikasi dengan orang itu. Dalam tugas imamatnya, beliau berpatokan pada kegembiraan dalam melaksanakan tugas. Namun Rm.Bono pun protes pada Yesus bila hidup selibatnya dijalani penuh kemudahan, penuh fasilitas, semua tercukupi, sementara umat mendapatkan 10-20 ribu saja sulit nian. Juga saat pelayanan orang sakit atau meninggal. Memang, aturannya umat memberi Iura Stolae. Tapi menerimanya kok kadang tidak sreg. Mosok kita dapat uang dari orang sakit atau mati. Tapi itu dikembalikan kepada kebijaksanaan romo itu sendiri.
Tatkala godaan dan gangguan muncul maka Rm.Bono sering menawar panggilannya itu kepada Yesus. Namun, jawaban yang muncul dari Yesus adalah”Saya yang memulai, laksanakan!” atau “gembalakanlah domba-dombaku,” atau kadang jawabannya menggantung.
Bagi Rm.Bono, menjadi rektor seminari atau romo paroki itu sama saja. Yang penting enjoy atau tidak. Maka sebagai romo baru di Kumetiran, beliau masih mencari tahu, informasi, dan mendengarkan umat. Beliau merasa senang dengan umat karena umat mempunyai daya juang dalam hidup dan menggereja. Ada pengurus yang dari pagi sampai sore sudah kerja, lalu malamnya untuk kegiatan menggereja.
Romo Bono mengaku masih ngopeni simboknya yang sudah lansia (83 thn), karena beliau dipercaya dan simboknya merasa cocok apabila dibandingkan dengan saudara-saudara yang lain. Sebab itu beliaupun memberi perhatian khusus pada lansia. Rm.Bono berharap bila para lansia yang dulunya rekasa agar masa tuanya indah, demikian juga bila kelak meninggal agar lansia dapat meninggal dengan indah.
Dituturkan oleh Rm.Bono bahwa panggilan imamat kini masih bagus. Malahan kini panggilan datang dari kalangan sudah mapan (ekonomi keluarga lebih dari cukup, pendidikannya S-1 atau S-2). Kalangan yang sudah mapan itu sudah bosan dengan gaya dunia yang memamerkan kenyaman hidup dan kebohongan. Misalnya, tiap hari kita digelontori iklan untuk beli itu. Kita jadi murah hati untuk iklan. Sementara kalau kita susah, sakit, mati maka semua pengiklan dan produknya tak merasa kehilangan kita. Maka, dalam dunia modern ini penting bagi umat untuk menemukam unsur spiritual dalam hidupnya. “Jangan lupa, kalau dulu kita belajar mengandalkan guru dan buku-buku, kini kita ada internet sebagai guru selanjutnya. Meski begitu, hanya ada satu guru utama kehidupan yaitu Mesias,” kata romo mengakhiri sharing dengan Kompak.
-Hard-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: