Mikael Wiidodo Santosa


Mikael Wiidodo Santosa
KALAU UNTUK TUHAN SEMUA PASTI TURAH

“Simbah”, demikian nama akrab ketika kawan-kawan menyapanya. Ia sendiri tidak tahu asal muasalnya. Nama paraban itu muncul sudah sejak ia aktif terlibat mudika St. Conradus Kuncen tahun 80-an. Aslinya dalam KTP bernama Mikael Widodo Santosa (52 th). Setelah menikah, ia berdomisili di lingkungan Notoyudan.
Pembawaannya yang kalem, sederhana dan sumeleh membuat bapak dari putri tunggal Maria Sri Widyastuti Nugrahani (7 th) mudah bergaul dan mudah dimintai bantuan. Umat lingkungan Santa Theresia Kanak-kanak Yesus Notoyudan memercayainya menjadi ketua lingungan selama 2 periode, yakni tahun 2004-2006 dan 2007-2009. Isterinya, Chirspina Sriyatun, S.Pd., selalu mendukung kegiatan Widodo. Ia pun kini mengemban tugas sebagai Ketua Wilayah IV (Kumetiran Kidul, Sutodirjan, dan Notoyudan).
Jabatannya sebagai Ketua Panitia Natal 2010 Paroki Kumetiran dimulai dari kebetulan. Waktu itu ada rapat pembentukan panitia natal 2010 di Panti Paroki. Yang diundang adalah pengurus wilayah III dan IV beserta jajarannya. Rapat itu molor waktu mulainya. Ketua II DP, Pak Wahyu Susanto tidak hadir karena mendadak ada panggilan dari Camat Gedong Tengen. Lalu “Simbah” Widodo pun oleh yang hadir diminta untuk memimpin rapat. Romo Noto yang turut hadir pada rapat itu terus saja menunjuknya menjadi Ketua Pamitia Natal 2010 karena Ketua Wilayah III tidak bersedia. Widodop un sanggup menjadi ketuanya asal pengurus lingkungan dan wilayah sanggup mengemban tugas bersama-sama.
Baginya, kalau kegiatan itu ditujukan untuk keluhuran nama Tuhan, maka anugerah Tuhan akan melimpah. Sebagai Ketua Panitia, ia optimis, semua biaya akan tercukupi bahkan turah. Meskipun iklan dalam buku panduan teks misa dilarang, ia yakin bahwa partisipasi umat dengan amplop sumbangan dapat diandalkan. Ia pun setuju kalau dalam teks misa tidak ada iklannya.
Widodo yang penampilannya low profile mengaku kalau sewaktu muda dulu ingin punya istri seorang penari. Cita-cita sederhana itu pun terpenuhi. Chrispina Sriyatun, istrinya, bekerja sebagai guru selain sebagai penari.
Susah dan senang adalah sudah jamaknya dalam hidup terus. Ia percaya kalau Tuhan selalu mendampingi dengan rahmat-Nya. Istrinya pernah sakit yang membutuhkan perhatian besar. Segenap usaha penyembuhan tak henti dilakukan, mulai berusaha ke dukun bayi tradisional, shinshe, atau dokter ahli kandungan. Anjuran Frater Ferry agar sembahyang di gua Sriningsih Klaten pun dilakukannya sebanyak 12 kali. Setelah di USG ternyata isterinya mempunyai kista dalam kandungannya. Ia pun kemudian berdoa di Ganjuran memohon kepada Tuhan agar isterinya mendapat kesembuhan. Ia dan istrinya gembira karena doanya terkabul.
Kini “simbah” Widodo kerap muncul dan mangkal di Panti Paroki. Tak lain, ia turut menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk meringankan beban para pengungsi korban Merapi. Tugasnya adalah sebagai Koodirnator Logistik yang mengelola keluar masuknya bantuan barang kebutuhan dan menyalurkannya ke posko-posko yang membutuhkannya, baik di Magelang, Salam, Kalasan, Sleman, dan tempat lainnya.
Kadang ia pun sedikit gundah. Gundah melihat wajah Gereja sekarang yang mulai dicuekin kaum mudanya untuk terlibat di lingkungan maupun paroki. “Suasana dan masanya memang berbeda dengan kami tahun 80-an. Pembinaan kaum muda sebaiknya dilakukan tanpa henti. Latihan kepemimnpinan mendesak dilaksanakan. Kalau tidak, kita akan melihat Gereja dalam 10 tahun ke depan tanpa generasi baru,” demikian ungkap Widodo. (Krest)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: