MAZMUR 8


MAZMUR 8

Minggu sore (05/09) kala itu hujan cukup deras mengguyur kota Jogja. Meski Misa sudah selesai, sebagian umat masih memenuhi selasar gereja. Menunggu hujan reda. Empat sekawan “si Tukang Ngobrol” itu pun masih berada di selasar selatan gereja.
“Wah repot kalau gini, nggak bawa mantol malah hujannya nggak reda-reda,” Setengah mengerutu Paulus Waru memulai perbincangan.
Magdalena Dhadhap segera berucap, “Ul… Ul, ya orang seperti kamu itu yang disebut tidak selalu siap siaga dan berjaga-jaga.”
“Jangan sok, Magda.” Justru Thomas Suto yang menanggapi ungkapan Magdalena. Katanya lagi, “Emangnya kamu bawa?”
“Ha… iya jelas bawa, no. Sebelum berangkat Misa tadi sudah terlihat ada mendung yang menggantung, kan. Udah kita ketahui sejak dulu, kalau cuaca mendung pasti akan turun hujan. Maka aku bawa mantol, gitu.”
“Ya udah, sana. Segera pulang!”
“Lho…lho….lho, kok ngusir. Ya suka-suka, to. Mau pulang atau mau tetap tinggal di sini, sakarepku, no.”
Memang seperti itu kebiasaan Thomas Suto dan Magdalena Dhadhap. Ngrembug apa pun sering berlanjut jadi eyel-eyelan. Melihat gelagat yang sudah mulai memanas, Petrus Noyo segera ambil suara, “Sudah-sudah, mung ngrembug bab mantol aja kok dadi padu. Bar nampa berkah maneh. Seharusnya pulang dari Misa itu kita siap diutus. Diutus menyebarakan kabar suka cita atau diutus untuk berbuat baik kepada siapa pun. Lha kok malah padu.”
Magdalena Dhadhap berucap, “Aku kan hanya cerita. Kalau aku selalu siap sedia. Lha ya, Thomas itu yang memulai.”
“Dah, sudah. Sekarang ngrembug yang lain saja.” Petrus Noyo mencoba mengalihkan perhatian, “Siapa yang Selasa kemarin (31/09) berangkat pembekalan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN)?”
Paulus Waru menanggapi, “Kan yang diundang hanya Prodiakon dan Pengurus Lingkungan.”
“Meski yang diundang hanya Prodiakon dan Pengurus Lingkungan. Tapi kalau kita dengar, punya minat dan mau datang, tentu boleh dan tidak akan ditolak. Idhep-idhep dapat tambahan wawasan gitu, lho.”
Thomas Suto kembali urun rembug, “Aku memang tahu bahwa hari itu ada pembekalan bagi pemandu BKSN dan dari lingkunganku sudah ada yang ditunjuk untuk datang dalam pembekalan itu. Lagian, kalau bicara soal Kitab Suci nyerah aja, aku. Ora gaduk.”
Magdalena Dhadhap dengan cepat menyergap, “Nggak usah banyak alasan, Thom. Kamu itu memang males kalau diajak berkegiatan.”
“Sudah, sudah. Mengko rak malah dadi padu maneh.” Petrus Noyo segera melerai dan lanjutnya lagi, “Benar kata Thomas, bahwa setiap lingkungan selain Prodiakon dan Pengurus Lingkungan, kadang juga mengutus mengirimkan tambahan untuk ikut dalam pembekalan. Hal ini selalu dilakukan, agar pelaksanaannya di lingkungan nanti berjalan baik dan lancar.”
“Lalu, BKSN tahun ini yang kita perdalam apa, Pet?”
“Gini, Ul. Tahun ini, Komisi Kitab Suci Kesukupan Agung Semarang masih mengajak kita untuk bersyukur. Meski tidak semuanya, kita diajak untuk bersama-sama mendalami Kitab Mazmur. Salah satu bagian dari Kitab Suci dalam bentuk sastra. Puisi.”
“Bentuk pertemuannya, masih seperti dulu, Pet?”
“Iya, Magda. Tema utamanya ‘Betapa Agung Nama-Mu, ya Tuhan’ (Mazmur 8). Seperti tahun lalu, dari tema besar itu, kemudian dibagi dalam empat kali pertemuan. Dari pertemuan ini kita akan tahu bahwa mazmur dapat digunakan untuk memuji, mengagungkan, bersyukur, berharap, juga memohon atau meratap.”
Magdalena Dhadhap antusias dan penuh semangat berucap, “Wah, tentu akan segar dan menarik, no.”
“Ya, tergantung, Magda.”
“Maksudmu, Thom?”
“Segar dan menarik itu sangat tergantung dengan siapa dan bagaimana cara membawakannya. Justru menurutku tidak mudah untuk membaca karya sastra dalam bentuk puisi. Kalau membacanya hanya datar-datar saja, bakalan tidak menarik. Kebalikannya malah jadi membosankan. Lebih-lebih bila dicoba dinyanyikan, kalau menyanyinya tidak pas, blero, fals, bisa jadi tidak segar dan tidak menarik, malah kacau.”
“Kamu itu, memang suka ngeyel kok, Thom.” Petrus Noyo menanggapi Thomas Suto dan sambungnya lagi, “Itulah, maka dalam pembekalan kemarin, para pemandu diharapkan melibatkan teman-teman yang biasa menyanyi atau para Pemazmur lingkungan. Dengan demikian bahan yang bisa dinyanyikan dan sudah ada teksnya dari buku Mazmur Tanggapan dan Bait Pengantar Injil, beberapa dapat dipilih dan dilagukan dalam pendalaman Kitab Suci kali ini. Boleh juga berkreasi dengan memilih memperdengarkan beberapa lagu Mazmur yang telah digubah dalam bentuk lagu pop rohani, agar tidak terkesan membosankan dan terkesan monoton. Untuk para pemandu yang merasa kurang mampu bernyanyi, diharapkan dapat menunjuk dan melibatkan umat yang biasa menyanyi, sehingga pertemuan menjadi segar dan menarik.”
“Pet, kalau kamu ingat. Empat kali pertemuan itu refrennya apa saja? Nanti tak cobanya di rumah. Syukur-syukur kalau saya bisa datang dalam pertemuan di lingkungan dan saya bisa membantu.”
“Untuk refrennya aku masih ingat. Hari pertama: Betapa Agung nama-Mu Tuhan, di seluruh bumi. Hari kedua: Tuhanlah Gembalaku yang menjamin selalu. Hari ketiga: Berbahagilah yang mendiami rumah Tuhan. Dan hari keempatnya: Kasihanilah, ya Tuhan Kaulah pengampun yang rahim dan belas kasih-Mu tak terhingga.”
“Sekalian, Pet. Nomor-nomornya.”
“Apa-apa kok minta disuapin, cari sendiri no, Thom.”
Ketika hujan telah sedikit reda mereka pun segera berpencar. Pulang. (YS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: